sariasih.id - Belakangan ini, isu mengenai Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian dunia kesehatan. Meskipun wabah ini belum menjadi pandemi global seperti COVID-19, tingkat fatalitasnya yang tinggi membuat kita harus tetap waspada. Namun, kita tidak perlu panik secara berlebihan.
Lalu, apa saja yang perlu kita ketahui dan bagaimana cara mencegahnya? Ulasan berikut ini dapat menjadi bekal pengetahuan serta langkah pencegahan.
Mengenal Virus Nipah
Virus Nipah adalah virus zoonosis, artinya virus ini dapat berpindah dari hewan ke manusia. Inang alaminya adalah kelelawar buah (kalong). Menurut dokter umum di RS Sari Asih Ciledug, dr Ubaidillah, virus ini sangat diwaspadai karena dapat menyebabkan peradangan otak (ensefalitis) yang serius dan infeksi saluran pernapasan akut.
Awal Mula Virus Nipah
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada periode 1998–1999 di Desa Sungai Nipah, Perak, Malaysia. Proses penularan bermula ketika kelelawar buah mencari makan di pohon-pohon sekitar peternakan babi di Malaysia. Sisa buah yang telah terkontaminasi air liur atau urine kelelawar jatuh ke dalam kandang dan dimakan oleh babi.
Setelah terinfeksi, babi berperan sebagai amplifier host atau inang pengganda. Tubuh mereka bertindak layaknya "pabrik" yang membuat virus berkembang biak dalam jumlah besar secara cepat. Hal ini menyebabkan babi mengalami sakit pernapasan parah dan menularkan virus kepada manusia melalui kontak langsung atau droplet (percikan cairan tubuh).
Cara Penularan yang Perlu Diwaspadai
Beruntung, virus ini tidak menyebar semudah flu. Namun, jalur penularannya perlu diwaspadai:
- Kontak Langsung: Menyentuh cairan tubuh hewan yang sakit (babi atau kelelawar).
- Makanan Terkontaminasi: Mengonsumsi buah atau nira yang terkena air liur atau urine kelelawar terinfeksi.
- Antar-manusia: Melalui kontak erat dengan pasien yang sudah terinfeksi, biasanya di lingkungan keluarga atau rumah sakit.
Langkah Pencegahan yang Efektif
Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus untuk Virus Nipah. Oleh karena itu, pencegahan adalah kunci utama. Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan menurut dr. Ubaidillah:
- Cuci Tangan secara Rutin: Gunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas, terutama setelah dari pasar atau area terbuka.
- Cuci Buah hingga Bersih: Pastikan buah-buahan dikupas atau dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Hindari buah yang terlihat memiliki bekas gigitan hewan.
- Hindari Nira Mentah: Masak nira (air pohon aren/kelapa) hingga mendidih sebelum diminum untuk membunuh bakteri atau virus yang mungkin menempel.
- Gunakan Masker di Area Berisiko: Jika Anda berada di lingkungan dengan populasi kelelawar tinggi atau peternakan, selalu gunakan alat pelindung diri.
- Masak Daging hingga Matang: Pastikan produk hewani diolah dengan suhu yang tepat.
Kapan Harus ke Dokter?
Gejala awal Virus Nipah sering kali menyerupai flu biasa, seperti:
- Demam tinggi mendadak.
- Nyeri otot dan sakit kepala.
- Sakit tenggorokan dan batuk.
- Mual atau muntah.
"Jika Anda mengalami demam tinggi yang disertai rasa kantuk hebat, kebingungan (disorientasi), atau sesak napas setelah melakukan perjalanan ke daerah endemik atau kontak dengan hewan, segera lakukan pemeriksaan ke IGD atau poli umum terdekat," ujar dr. Ubaidillah.
Disebutkan oleh dr. Ubaidillah, kewaspadaan adalah perlindungan terbaik. Dengan menjaga kebersihan makanan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), kita dapat meminimalkan risiko penularan virus berbahaya ini.






