sariasih.id - Deteksi dini tuberkulosis (TBC) pada anak menjadi langkah penting untuk mencegah perkembangan penyakit dan mengurangi risiko komplikasi. Orang tua perlu segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila menunjukkan gejala yang mengarah pada TBC, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC aktif.
TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru. Namun, infeksi juga dapat mengenai organ lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal, usus, hingga selaput otak.
Pada anak, gejala TBC dapat berupa demam berkepanjangan atau berulang, batuk selama dua minggu atau lebih, berat badan turun atau tidak bertambah dalam dua bulan, nafsu makan menurun, serta tubuh terlihat lemas dan kurang aktif.
Pemeriksaan TBC pada anak membutuhkan pendekatan khusus karena pengambilan sampel dahak tidak selalu mudah dilakukan. Selain itu, jumlah bakteri pada tubuh anak terkadang lebih sedikit sehingga pemeriksaan bakteriologis dapat memberikan hasil negatif meskipun anak mengalami TBC.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa penegakan diagnosis TBC anak dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penelusuran riwayat kontak dengan penderita, pemeriksaan fisik, penilaian pertumbuhan anak, hingga pemeriksaan penunjang.
Salah satu metode pemeriksaan yang dapat digunakan adalah Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mendeteksi bakteri TBC dan mengetahui kemungkinan resistansi terhadap obat tertentu. Pemeriksaan lain dapat meliputi foto rontgen dada dan uji tuberkulin sesuai indikasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan penggunaan tes diagnostik cepat sebagai pemeriksaan awal bagi orang yang menunjukkan gejala TBC. Khusus untuk anak, penegakan diagnosis dilakukan dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan klinis, pertumbuhan, pemeriksaan bakteriologis, dan foto rontgen bila diperlukan.
Setelah diagnosis ditegakkan, anak perlu mendapatkan pengobatan sesuai jenis dan kondisi penyakitnya. Pengobatan TBC menggunakan kombinasi obat antituberkulosis yang harus dikonsumsi secara teratur sesuai dosis dan jangka waktu yang ditentukan dokter.
Kepatuhan menjalani pengobatan menjadi faktor penting untuk mencapai kesembuhan. Orang tua harus memastikan anak tidak menghentikan konsumsi obat sendiri meskipun kondisi kesehatannya sudah terlihat membaik.
Selain pengobatan, pencegahan juga perlu dilakukan melalui pemberian imunisasi BCG, pemenuhan kebutuhan gizi seimbang, perbaikan ventilasi rumah, serta pemeriksaan terhadap anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
Kementerian Kesehatan juga menganjurkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak yang memenuhi kriteria setelah melalui evaluasi tenaga kesehatan.
TBC bukan penyakit yang harus disembunyikan karena dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Kesadaran orang tua untuk mengenali gejala, melakukan pemeriksaan, dan memastikan pengobatan sampai tuntas menjadi bagian penting dalam melindungi kesehatan anak.






