sariasih.id - Mayoritas masyarakat Indonesia masih terjebak pada stigma usang bahwa masalah gizi selalu identik dengan anak yang kurus kering dan perut buncit akibat kelaparan ekstrem. Fakta di lapangan saat ini justru menunjukkan pergeseran tren yang mengkhawatirkan.
Masalah gizi bukan lagi monopoli kekurangan asupan makanan, melainkan juga akibat kelebihan kalori tanpa nilai gizi yang seimbang. Fenomena inilah yang kerap menjerat anak-anak "zaman now" yang lebih akrab dengan jajanan kekinian tinggi gula dibanding sayur mayur.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama World Health Organization (WHO) secara intensif menyoroti kondisi ini sebagai Double Burden of Malnutrition atau beban ganda masalah gizi. Kemenkes menegaskan bahwa malnutrisi sejatinya memiliki dua wajah yang sama berbahayanya: gizi kurang dan gizi lebih.
Keduanya saling berkaitan erat, sering disalahpahami oleh para orang tua, namun sama-sama membawa dampak destruktif, terutama bagi anak pada rentang usia bawah tiga tahun (batita).
"Malnutrisi itu spektrumnya luas. WHO dan Kemenkes membaginya dalam dua kategori besar. Pertama, gizi kurang seperti stunting, wasting, dan underweight. Kedua, gizi lebih yang mencakup overweight (kelebihan berat badan) dan obesitas," jelas Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Sangiang, dr. Rahardi Mokhtar, Sp.A.
Dengan pemahaman ini, anggapan bahwa anak gemuk adalah anak yang sehat harus segera dievaluasi. Anak dengan perawakan gemuk sangat mungkin masuk dalam kategori malnutrisi apabila asupan gizinya tidak seimbang dan jauh melebihi kebutuhan harian tubuh.
Obesitas, terang dr. Rahardi, terjadi ketika tubuh secara masif menyimpan terlalu banyak lemak akibat ketimpangan antara kalori yang masuk dan energi yang dibakar. Dalam bahasa yang lebih sederhana: asupan makan sangat tinggi, namun aktivitas fisiknya minim.
Kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. Data dari UNICEF pada tahun 2022 menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan, di mana lebih dari 1 juta anak balita di seluruh dunia mengalami kegemukan atau obesitas. Tanda-tanda obesitas pada batita bisa diamati dari Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas angka 30 berdasarkan kurva WHO, penumpukan lemak yang masif di area pipi, perut, pinggang, dan paha, serta kecenderungan anak yang tidak aktif dan cepat lelah saat bermain.
Dampak jangka panjang dari kondisi obesitas ini sangat serius, meliputi tingginya risiko diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan metabolik sejak usia dini, hingga turunnya kepercayaan diri anak saat mulai bersosialisasi. Kebiasaan makan yang buruk ini juga berpotensi terbawa hingga fase dewasa.
Di sisi lain, sebuah studi komprehensif dari The Lancet menyebutkan bahwa 45% kematian anak balita di dunia memiliki korelasi kuat dengan malnutrisi, baik dalam bentuk gizi kurang maupun obesitas.
Mengawal tumbuh kembang anak agar tidak melenceng dari kurva ideal membutuhkan ketelitian dan edukasi yang berkelanjutan. Untuk mendampingi para orang tua dalam menghadapi tantangan gizi ini, RS Sari Asih Sangiang menyediakan fasilitas Klinik Anak dengan layanan konsultasi gizi terpadu, pemantauan tumbuh kembang secara berkala, hingga edukasi pemberian MPASI yang dipandu langsung oleh tenaga medis profesional.






