sariasih.id - Lingkungan keluarga menjadi salah satu tempat yang perlu mendapat perhatian dalam upaya mencegah penularan tuberkulosis (TBC) pada anak. Kontak erat dengan orang yang mengalami TBC aktif, terutama TBC paru, dapat meningkatkan risiko anak terinfeksi bakteri penyebab penyakit tersebut.
TBC merupakan penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara ketika seseorang dengan TBC aktif pada paru-paru mengeluarkan partikel yang mengandung bakteri saat batuk, bersin, berbicara, atau meludah.
Partikel tersebut dapat terhirup oleh orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, anak-anak yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak dekat dengan penderita TBC perlu mendapatkan perhatian khusus.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa anak di bawah usia lima tahun termasuk kelompok yang berisiko tinggi mengalami TBC. Hal ini berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang. Anak dengan kondisi gizi buruk maupun gangguan kekebalan tubuh juga memiliki risiko lebih besar.
Gejala TBC pada anak dapat berupa demam berkepanjangan, batuk menetap, berat badan tidak bertambah atau menurun, serta anak terlihat lemas dan kurang aktif. Namun, tidak semua anak menunjukkan gejala yang mudah dikenali.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menempatkan anak-anak sebagai kelompok rentan dalam pengendalian TBC. Dalam laporan tahun 2025, WHO memperkirakan sekitar 1,2 juta anak dan remaja berusia 0–14 tahun mengalami TBC secara global pada 2024.
Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat perlu menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker sesuai anjuran, serta memastikan sirkulasi udara di dalam rumah berjalan baik. Membuka jendela secara rutin dapat membantu pertukaran udara di lingkungan tempat tinggal.
Pemberian imunisasi BCG pada bayi juga menjadi salah satu langkah pencegahan penting. Vaksin BCG terutama memberikan perlindungan terhadap bentuk TBC berat pada anak, seperti meningitis TBC dan TBC milier.
Apabila terdapat anggota keluarga yang didiagnosis TBC aktif, anak yang memiliki kontak erat sebaiknya segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk menjalani skrining. Tenaga kesehatan dapat menentukan apakah anak membutuhkan pemeriksaan lanjutan atau Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
Kemenkes juga menganjurkan pemberian TPT kepada anak yang memenuhi kriteria, terutama kontak serumah dengan penderita TBC, sesuai hasil evaluasi tenaga kesehatan.
Masyarakat tidak perlu memberikan stigma atau menjauhi penderita TBC. Penyakit ini dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tepat dan teratur.
Dengan meningkatkan kesadaran keluarga, melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat, serta memastikan penderita menjalani pengobatan sampai tuntas, risiko penularan TBC kepada anak dapat ditekan.






