sariasih.id - Musim kemarau tidak hanya identik dengan suhu udara yang lebih panas. Pada periode ini, kondisi lingkungan juga dapat menjadi lebih berdebu dan meningkatkan paparan terhadap polutan udara. Anak-anak perlu mendapat perhatian lebih karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.
Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Karawaci, Kota Tangerang, dr. Rahardi Mokhtar, SpA, mengatakan anak dapat lebih rentan mengalami infeksi saluran pernapasan selama kondisi lingkungan tertentu, dengan batuk dan pilek menjadi keluhan yang sering ditemukan.
Paparan debu dan polusi tidak selalu menjadi penyebab langsung batuk pilek. Namun, kualitas udara yang buruk dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menjadi faktor yang memperberat gangguan pernapasan tertentu.
WHO menyebut polusi udara sebagai salah satu risiko lingkungan terbesar bagi kesehatan anak. Organisasi kesehatan tersebut juga menyatakan paparan polusi udara berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan pada anak, termasuk infeksi saluran pernapasan.
Dalam laporan WHO mengenai polusi udara luar ruangan, organisasi tersebut mencatat 99 persen populasi dunia pada 2019 tinggal di lokasi yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO. Polusi udara ambien juga disebut sebagai salah satu risiko lingkungan utama terhadap kesehatan anak.
Kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. WHO dalam pembaruan informasi mengenai polusi udara rumah tangga pada Desember 2025 menyebut paparan polusi rumah tangga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan bawah pada anak. WHO memperkirakan paparan polusi udara rumah tangga hampir menggandakan risiko infeksi saluran pernapasan bawah pada anak.
Karena itu, orang tua perlu memastikan rumah memiliki ventilasi dan sirkulasi udara yang baik. Membersihkan debu secara berkala juga penting, terutama pada kamar tidur, ruang bermain, karpet, kasur, dan permukaan yang sering disentuh anak.
Anak juga sebaiknya tidak terpapar asap rokok di dalam rumah. Selain menghindari asap rokok, orang tua perlu memperhatikan sumber polusi lain seperti asap pembakaran sampah dan asap dari aktivitas memasak yang tidak memiliki ventilasi memadai.
Ketika anak beraktivitas di luar rumah, orang tua dapat memperhatikan kondisi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di lingkungan yang sangat berdebu atau memiliki paparan polusi tinggi.
Penggunaan masker tidak harus dianggap sebagai satu-satunya cara perlindungan. WHO menekankan pentingnya kombinasi berbagai langkah, termasuk kebersihan tangan, etika pernapasan dan perbaikan ventilasi.
Apabila anak sudah mengalami batuk atau pilek, orang tua perlu memperhatikan kondisi secara keseluruhan. Batuk dan pilek ringan dapat terjadi pada infeksi saluran pernapasan, tetapi gejala yang memburuk atau disertai kesulitan bernapas memerlukan pemeriksaan medis.
WHO pada 2026 juga menerbitkan pedoman konsolidasi terbaru mengenai penanganan penyakit pernapasan pada anak, termasuk asma dan bronkiolitis. Pedoman tersebut menegaskan bahwa penyakit pernapasan merupakan salah satu penyebab utama gangguan kesehatan pada anak secara global.
Dengan demikian, menjaga kualitas udara di sekitar anak menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan pernapasan, terutama ketika musim kemarau meningkatkan paparan debu dan polutan.






