sariasih.id - Beraktivitas di luar ruangan ketika suhu lingkungan tinggi tidak hanya membuat tubuh berkeringat. Paparan panas yang berlangsung cukup lama dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan mengalami gangguan dalam mengatur suhu inti.
Dokter Umum RS Sari Asih Karawaci, dr Fadli Ambara, MARS, mengatakan kondisi tersebut perlu diantisipasi karena suhu lingkungan yang tinggi ditambah aktivitas fisik dapat meningkatkan beban panas pada tubuh.
“Suhu lingkungan yang tinggi dan aktivitas pada suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan overstress dan metabolisme panas pada tubuh sehingga dapat berpotensi mengalami heat cramps (kram panas), heat syncope (penurunan kesadaran akibat panas), heat exhaustion (kekurangan air, dan kekurangan garam), heat stroke (gangguan pada tubuh akibat serangan panas),” sebut dokter yang akrab dipanggil dr Fadli ini.
Berbagai respons tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh mulai kesulitan menghadapi kondisi panas. Karena itu, sejumlah keluhan yang muncul saat beraktivitas di tengah suhu tinggi sebaiknya tidak diabaikan.
1. Keringat Keluar Berlebihan
Keringat merupakan respons tubuh untuk mengeluarkan panas. Namun, ketika seseorang berkeringat secara intens selama beberapa jam, jumlah cairan yang hilang dari tubuh dapat menjadi sangat banyak.
Disebutkan dr Fadli, pengeluaran keringat berlebih, termasuk ketika berolahraga, dapat menyebabkan dehidrasi.
Tubuh memang mengeluarkan air melalui keringat sebagai respons terhadap panas. Namun, kehilangan cairan yang tidak segera digantikan dapat mengganggu kemampuan tubuh mempertahankan kondisi normal.
2. Tubuh Mengalami Kram Panas
Kram pada tubuh ketika berada di lingkungan panas dapat menjadi salah satu gangguan akibat paparan suhu tinggi.
Dalam kondisi tersebut, heat cramps atau kram panas dapat terjadi akibat tekanan panas dan kehilangan cairan maupun garam tubuh.
Karena itu, kram yang muncul ketika seseorang beraktivitas di tengah suhu panas sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelelahan biasa.
3. Mulai Mengalami Kelelahan
Paparan panas dalam waktu lama dapat menyebabkan tubuh mengalami heat exhaustion atau kelelahan akibat panas.
Menurut dr Fadli, kondisi ini berkaitan dengan kekurangan air dan garam dalam tubuh. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan ketika seseorang terus beraktivitas dan mengeluarkan banyak keringat tanpa mengganti cairan tubuh yang hilang.
4. Mengalami Penurunan Kesadaran
Paparan panas juga dapat menyebabkan heat syncope, yaitu penurunan kesadaran akibat panas.
Kondisi ini menjadi salah satu tanda yang perlu mendapat perhatian karena menunjukkan bahwa tubuh sudah mengalami dampak yang lebih serius dari paparan suhu tinggi.
Jika seseorang mulai mengalami gangguan kesadaran ketika berada di lingkungan panas, aktivitas sebaiknya segera dihentikan dan kondisi tersebut perlu mendapatkan penanganan yang tepat.
5. Tubuh Kesulitan Mengatur Suhu Inti
Keringat membantu tubuh mengeluarkan panas. Namun, apabila seseorang mengeluarkan keringat secara intens selama beberapa jam, kelenjar keringat dapat mengalami kelelahan.
“Apabila dalam beberapa jam seseorang mengeluarkan keringat secara intens, dapat mengakibatkan kelelahan pada kelenjar keringat sehingga terjadi ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu inti tubuh,” jelas dr Fadli.
Ketidakmampuan mengatur suhu inti merupakan kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi gangguan akibat panas yang lebih serius.
6. Suhu Tubuh Mengalami Perubahan Ekstrem
Gangguan pengaturan suhu tubuh akibat paparan panas dapat berujung pada kondisi serius seperti heat stroke.
Dijelaskan dr Fadli, heat stroke dan kerusakan otak permanen dapat terjadi apabila suhu tubuh tidak segera dikontrol ke posisi normal.
Ia juga menyebutkan bahwa pada suhu tubuh kurang dari 34 derajat Celsius, metabolisme selular dapat menurun secara tajam dan berpotensi menyebabkan ketidaksadaran serta cardiac arrhythmias atau gangguan irama jantung.
7. Muncul Tanda Dehidrasi
Kehilangan cairan melalui keringat dalam jumlah banyak dapat menyebabkan dehidrasi, terutama ketika seseorang beraktivitas selama beberapa jam di lingkungan panas.
Lebih lanjut dikatakan dr Fadli, penggantian cairan merupakan salah satu cara untuk mencegah dehidrasi dan menjaga volume cairan tubuh agar proses fisiologis serta metabolisme tetap berjalan normal.
“Salah satu cara untuk mencegah dehidrasi yaitu penggantian cairan tubuh. Tujuan penggantian cairan yang utama adalah memelihara volume cairan di dalam tubuh sehingga proses fisiologis metabolisme di dalam tubuh dapat berjalan dengan normal,” sarannya.
Dokter Sarankan Cairan dan Istirahat
Untuk mengurangi risiko gangguan akibat panas, dr Fadli menyarankan masyarakat memastikan kondisi hidrasi tubuh tetap baik.
Konsumsi cairan sekitar 1.500–2.000 cc setiap hari. Sebelum beraktivitas di lingkungan dengan suhu tinggi, masyarakat dianjurkan mengonsumsi sekitar 400–600 ml air 20 menit sebelumnya.
Saat aktivitas berlangsung, konsumsi sekitar 150–200 ml atau satu gelas air setiap 15–20 menit.
Selain memenuhi kebutuhan cairan, masyarakat juga dapat menggunakan tabir surya, mengenakan pakaian berwarna terang dan ringan, serta mengonsumsi buah dengan kandungan air tinggi seperti melon, semangka, stroberi, anggur, dan jeruk.
Air kelapa juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu rehidrasi tubuh karena mengandung vitamin, mineral, dan elektrolit.
“Dan yang terakhir sebisa mungkin ada waktu untuk beristirahat di lingkungan dengan suhu yang lebih rendah, untuk mengurangi mengurangi stress pada tubuh akibat suhu lingkungan yang tinggi,” pungkasnya.






