sariasih.id - Endoskopi dikenal sebagai pemeriksaan untuk melihat kondisi saluran pencernaan. Namun, manfaat prosedur ini tidak terbatas pada diagnosis. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan tindakan medis melalui endoskop untuk menangani masalah yang ditemukan selama pemeriksaan.
Endoskopi menggunakan selang tipis dan lentur yang dilengkapi kamera serta sumber cahaya. Alat tersebut dimasukkan melalui mulut atau anus, bergantung pada bagian saluran cerna yang akan diperiksa.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Subhan Rumoning, Sp.PD, FINASIM, MARS, menjelaskan bahwa endoskopi dapat membantu dokter memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi saluran pencernaan. Pemeriksaan ini juga memungkinkan tindakan tertentu dilakukan dalam prosedur yang sama apabila terdapat indikasi medis.
Dua jenis pemeriksaan untuk saluran cerna
Gastroskopi atau esophagogastroduodenoscopy (EGD) digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung, dan usus dua belas jari. Prosedur dilakukan dengan memasukkan endoskop melalui mulut.
Pemeriksaan ini dapat membantu mengevaluasi nyeri ulu hati yang menetap, kesulitan menelan, mual-muntah berkepanjangan, serta dugaan perdarahan saluran cerna bagian atas. Dokter juga dapat menemukan peradangan, penyempitan, atau kelainan jaringan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Adapun kolonoskopi digunakan untuk memeriksa bagian dalam usus besar melalui anus. Prosedur ini dapat membantu mengevaluasi perubahan pola buang air besar, perdarahan saluran cerna bagian bawah, serta mendeteksi polip dan kelainan lainnya.
Pemilihan prosedur disesuaikan dengan gejala, lokasi masalah, faktor risiko, dan hasil evaluasi dokter.
Bagaimana endoskopi dapat digunakan untuk terapi?
Salah satu keunggulan endoskopi adalah kemampuannya mendukung tindakan medis tertentu tanpa harus melakukan operasi terbuka.
Contohnya adalah ligasi varises esofagus. Varises esofagus merupakan pembuluh darah yang melebar di kerongkongan dan dapat mengalami perdarahan. Melalui endoskopi, dokter dapat melakukan ligasi untuk menangani varises tersebut dan membantu mengendalikan atau mencegah perdarahan sesuai indikasi.
Endoskopi juga dapat digunakan untuk mengambil sampel jaringan atau biopsi guna membantu pemeriksaan lebih lanjut. Pada kasus tertentu, alat endoskopi dapat digunakan untuk melakukan tindakan lain sesuai kebutuhan medis.
Meskipun demikian, tidak semua masalah saluran pencernaan dapat ditangani dengan endoskopi. Dokter akan menentukan apakah prosedur tersebut sesuai dengan kondisi pasien atau diperlukan metode penanganan lainnya.
Kapan pemeriksaan endoskopi perlu dipertimbangkan?
Keluhan maag, kembung, dan gangguan pencernaan tidak selalu memerlukan endoskopi. Pemeriksaan dipertimbangkan berdasarkan karakter gejala, usia, riwayat kesehatan, faktor risiko, serta respons terhadap pengobatan.
Namun, terdapat tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi medis lebih lanjut, antara lain sulit atau nyeri saat menelan, nyeri ulu hati yang menetap, muntah terus-menerus, muntah darah, BAB berdarah, tinja berwarna hitam, serta penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Pasien dengan tanda perdarahan saluran cerna, seperti muntah darah atau BAB hitam, perlu mendapatkan penilaian medis segera. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk atau mencoba mengatasinya sendiri tanpa pemeriksaan.
Persiapan tetap menjadi bagian penting
Sebelum endoskopi, pasien perlu mengikuti instruksi puasa dan persiapan khusus sesuai jenis prosedur. Gastroskopi umumnya memerlukan puasa beberapa jam, sedangkan kolonoskopi membutuhkan pembersihan usus menggunakan obat yang diresepkan atau diarahkan tenaga medis.
Dokter juga perlu mengetahui seluruh obat, vitamin, dan suplemen yang dikonsumsi pasien, termasuk obat pengencer darah dan obat diabetes. Penyesuaian pengobatan dilakukan berdasarkan pertimbangan medis, bukan atas keputusan pasien sendiri.
Dengan persiapan dan pemantauan yang sesuai, endoskopi dapat menjadi salah satu sarana penting untuk mengevaluasi serta menangani gangguan saluran pencernaan.
Apabila mengalami keluhan pencernaan yang menetap atau berulang, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter spesialis penyakit dalam. Dokter akan menentukan pemeriksaan dan penanganan yang paling sesuai berdasarkan kondisi masing-masing pasien.






