sariasih.id - Kemudahan teknologi layanan pesan-antar makanan sukses mengubah pola konsumsi Gen Z dan milenial. Di balik kepraktisan dan kelezatan makanan kekinian, tersimpan ancaman nyata bagi kesehatan pembuluh darah berupa asupan natrium (garam) yang melampaui batas aman.
Berdasarkan pedoman gizi dari Kementerian Kesehatan RI, batas konsumsi natrium harian yang aman bagi orang dewasa adalah 2.000 miligram, atau setara dengan 1 sendok teh garam (5 gram). Faktanya, satu porsi makanan cepat saji atau makanan olahan yang sering dipesan melalui aplikasi daring bisa mengandung natrium dua hingga tiga kali lipat dari batas harian tersebut.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Ciledug, dr. Astri Handayani, Sp.PD, menyoroti fenomena ketidaksadaran nutrisi ini di kalangan anak muda. "Banyak pasien muda yang terkejut saat terdiagnosis hipertensi karena mereka merasa tidak banyak menambahkan garam pada makanannya. Padahal, natrium tersembunyi dalam jumlah masif pada saus, bumbu instan, keju olahan, makanan beku, hingga pengawet," jelas dr. Astri.
Menurutnya, ginjal manusia dirancang untuk menyaring kelebihan cairan, namun tingginya kadar natrium dalam darah akan menarik air dan menahannya di dalam pembuluh darah. "Volume darah yang meningkat ini menekan dinding pembuluh darah secara ekstrem. Bayangkan selang air yang dipaksa mengalirkan air bervolume besar secara terus-menerus, dindingnya pasti akan rusak," papar dr. Astri.
Untuk memutus rantai risiko ini, konsumen muda diimbau untuk mulai membaca label informasi nilai gizi jika membeli makanan kemasan dan lebih sering memasak di rumah ( home-cooked meals). Memperbanyak asupan kalium dari sayuran hijau dan buah-buahan segar juga sangat dianjurkan karena kalium berfungsi merelaksasi dinding pembuluh darah dan membantu membuang kelebihan natrium melalui urine.






