Jangan Abaikan Susah Buang Air Kecil, Prostat Bisa Ganggu Ginjal

Jangan Abaikan Susah Buang Air Kecil, Prostat Bisa Ganggu Ginjal

sariasih.id - Kesulitan buang air kecil yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sekadar gangguan akibat bertambahnya usia. Pada pria, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), yang dalam kondisi tertentu dapat menimbulkan komplikasi pada kandung kemih dan ginjal.

Prostat merupakan kelenjar yang terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra. Kelenjar ini menghasilkan cairan yang menjadi bagian dari air mani. Ketika prostat membesar, tekanan pada uretra dapat menghambat keluarnya urine.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa BPH merupakan kondisi nonkanker yang umum terjadi pada pria usia lanjut. Meski bersifat jinak, pembesaran prostat tetap memerlukan perhatian apabila menyebabkan gangguan berkemih atau komplikasi.

Dari aliran urine lemah hingga retensi urine

Gangguan berkemih akibat BPH dapat muncul secara bertahap. Gejalanya antara lain sulit memulai buang air kecil, harus mengejan, pancaran urine melemah, aliran urine terputus-putus, serta sering buang air kecil pada malam hari.

Sebagian penderita juga merasa kandung kemih belum kosong meskipun sudah selesai berkemih. Kondisi tersebut dapat terjadi karena urine masih tertinggal di dalam kandung kemih.

Apabila hambatan semakin berat, penderita dapat mengalami retensi urine. Pada kondisi ini, kandung kemih tidak dapat mengeluarkan urine secara memadai. Retensi urine akut, yaitu ketika urine tiba-tiba tidak bisa keluar, membutuhkan pertolongan medis segera.

Hambatan aliran urine yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan gangguan pada kandung kemih dan, dalam kondisi tertentu, kerusakan ginjal. Karena itu, pemeriksaan sejak munculnya keluhan penting untuk mencegah masalah berkembang lebih jauh.

Bagaimana dokter memastikan diagnosis?

Gejala BPH dapat menyerupai gangguan lain, termasuk infeksi saluran kemih, peradangan prostat, dan kanker prostat. Oleh karena itu, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala.

Dokter akan menilai riwayat keluhan, melakukan pemeriksaan fisik, dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang sesuai kebutuhan. Pemeriksaan tersebut dapat meliputi tes urine, pemeriksaan darah untuk menilai fungsi ginjal, ultrasonografi, serta pengukuran kadar PSA apabila diindikasikan.

Pemeriksaan tambahan juga dapat dilakukan untuk menilai kekuatan pancaran urine dan jumlah urine yang tersisa setelah berkemih. Hasil pemeriksaan membantu dokter menentukan apakah keluhan disebabkan BPH atau kondisi lain.

Penanganan disesuaikan dengan kondisi pasien

BPH tidak selalu membutuhkan operasi. Pada penderita dengan gejala ringan, dokter dapat menyarankan pemantauan berkala dan perubahan kebiasaan sehari-hari.

Langkah yang dapat membantu mengelola keluhan meliputi menjaga berat badan, rutin beraktivitas fisik, mengurangi minuman berkafein menjelang waktu tidur jika memperburuk gejala, serta tidak menunda buang air kecil.

Jika gejala mengganggu, dokter dapat memberikan obat untuk membantu melancarkan aliran urine atau mengurangi ukuran prostat, sesuai indikasi. Pada kasus tertentu, tindakan operasi atau prosedur lain diperlukan untuk mengatasi sumbatan.

Penderita sebaiknya tidak mengonsumsi obat prostat tanpa konsultasi medis karena pilihan terapi bergantung pada kondisi kesehatan, obat lain yang digunakan, dan kemungkinan penyebab keluhan.

Kenali tanda bahaya

Pria perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan berkemih yang memburuk, nyeri saat buang air kecil, atau terdapat darah dalam urine. Jika urine sama sekali tidak bisa keluar, segera pergi ke instalasi gawat darurat.

Mengenali gejala sejak dini dan menjalani pemeriksaan sesuai kebutuhan dapat membantu mencegah komplikasi. Gangguan prostat bukan sesuatu yang harus ditutupi karena malu, melainkan masalah kesehatan yang dapat dievaluasi dan ditangani secara medis.


Tips Kesehatan Terkait