sariasih.id - Pandangan keliru bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat sembuh sendirinya berpotensi memicu lonjakan angka kematian (Case Fatality Rate). Jika terlambat mendapatkan intervensi medis darurat, infeksi virus dengue mematikan ini dapat merusak organ vital, menyebabkan syok hemoragik, hingga memicu pendarahan spontan di area otak.
Data epidemiologi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menempatkan DBD sebagai ancaman laten yang memerlukan respons kegawatdaruratan yang cepat. Fasilitas pelayanan tingkat pertama dan lanjutan diminta terus memperkuat triase pasien demam. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan pendarahan hebat dan kerusakan organ berat sebagai manifestasi dari Severe Dengue (Dengue Berat), sebuah kondisi medis yang membutuhkan perawatan intensif di ICU.
Merespons risiko fatal ini, dr. Laras Budiyani, SpPD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat. Beliau meminta keluarga pasien untuk segera mencari pertolongan medis jika menemukan tanda-tanda bahaya (warning signs), salah satunya adalah penurunan kesadaran yang muncul mendadak.
Kondisi penurunan kesadaran atau letargi pada penderita dengue bukan gejala ringan. “Penyakit yang disebabkan oleh virus nyamuk dengue ini secara umum dapat ditangani oleh layanan medis, hanya saja dr. Laras Budiyani, SpPD, mewanti-wanti jika penderita sudah kehilangan kesadaran, hal ini bisa disebabkan adanya penyebab lain semisal gangguan hati berat, atau terjadi pendarahan di otak akibat trombosit yang terlalu rendah,” ujar dr. Laras Budiyani, SpPD.
Pendarahan intrakranial (di dalam otak) terjadi karena jumlah trombosit yang terlalu rendah gagal menghentikan pendarahan mikroskopis pada pembuluh darah yang rapuh. Selain itu, komplikasi berupa ensefalopati dengue dan kegagalan fungsi hati akut juga menjadi penyumbang utama fatalitas. Oleh karena itu, tenaga medis mengimbau agar masyarakat tidak mengabaikan pemantauan klinis dan segera melakukan pemeriksaan laboratorium darah perifer lengkap sejak demam hari ketiga untuk mendeteksi ancaman pendarahan sedini mungkin.






