sariasih.id - Anggapan bahwa penderita wasir harus menjalani operasi ketika keluhan sudah berulang tidak selalu berlaku pada setiap pasien. Perkembangan penanganan hemoroid menghadirkan sejumlah pilihan tindakan nonoperatif yang dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien.
Dokter Spesialis Bedah Umum RS Sari Asih Ciputat, Kota Tangerang Selatan, dr Fiki Apriliano Risenta, SpB, menjelaskan bahwa penanganan wasir perlu disesuaikan dengan kondisi dan keluhan pasien.
Menurut dr Fiki, pasien dengan keluhan buang air besar berdarah atau muncul benjolan belum tentu langsung membutuhkan operasi. Pada kondisi tertentu, pasien dapat terlebih dahulu mendapatkan obat dan edukasi untuk memperbaiki gaya hidup.
Bagi pasien yang mengalami keluhan berulang, salah satu tindakan yang disebut dr Fiki adalah PILA atau Paran Injection and Ligation for Ambeien.
“Teknik PILA merupakan kombinasi dari tindakan injeksi atau suntikan dan ikatan, antara wasir bagian dalam dan bagian luar,” terang dr Fiki Apriliano Risenta, SpB.
Teknik tersebut pada prinsipnya merupakan tindakan yang menggabungkan injeksi dengan ligasi atau pengikatan jaringan hemoroid. Informasi mengenai PILA dari sejumlah fasilitas kesehatan di Indonesia juga menjelaskan konsep kombinasi injeksi skleroterapi dan ligasi karet dalam penanganan hemoroid tertentu.
Menurut dr Fiki, tindakan PILA tidak memerlukan waktu lama dan dapat dilakukan secara rawat jalan. Prosedur tersebut, lanjut dia, dapat dilakukan di poliklinik tanpa proses pembiusan.
“Pasien dengan teknik PILA bisa dilakukan bagi pasien wasir yang masih kembali datang dengan kondisi keluhan yang berulang,” kata dr Fiki.
Ia menambahkan bahwa pasien yang menjalani tindakan tersebut tidak perlu menjalani rawat inap dan dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari setelah tindakan sesuai kondisi masing-masing.
Meski demikian, pilihan tindakan tetap harus berdasarkan hasil pemeriksaan dokter. Tidak semua kasus wasir memiliki tingkat keparahan yang sama. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hemoroid dapat terbagi menjadi beberapa tingkat, dan penanganannya disesuaikan dengan derajat serta kondisi pasien. Hemoroid derajat tertentu dapat membutuhkan penanganan di fasilitas kesehatan sekunder.
Kemenkes RI juga memperbarui informasi mengenai kapan hemoroid membutuhkan tindakan operasi. Dalam artikel yang diterbitkan Juni 2026, Kemenkes menjelaskan bahwa hemoroid dapat berkaitan dengan konstipasi berkepanjangan, pola makan rendah serat, kebiasaan mengejan terlalu lama, kehamilan dan obesitas. Artikel tersebut juga membahas beberapa tindakan nonkonvensional yang tidak selalu melibatkan pembedahan terbuka.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa darah yang keluar saat buang air besar tidak otomatis berarti wasir. Kemenkes mengingatkan bahwa perdarahan dari anus dapat menjadi tanda berbagai kondisi lain sehingga pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Dengan demikian, istilah “tanpa operasi” bukan berarti semua penderita wasir dapat menghindari tindakan bedah. Pilihan terapi tetap ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, jenis hemoroid, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.





