sariasih.id - Pertambahan usia dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan prostat pada pria. Salah satu kondisi yang umum ditemukan adalah pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), yakni kondisi ketika kelenjar prostat membesar dan berpotensi menghambat aliran urine.
Kelenjar prostat berada di bawah kandung kemih dan mengelilingi bagian uretra. Ketika ukurannya membesar, saluran tersebut dapat mengalami penyempitan sehingga pria kesulitan mengeluarkan urine secara lancar.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa BPH lebih sering ditemukan pada pria berusia di atas 50 tahun dan prevalensinya meningkat pada kelompok usia lanjut. Meski demikian, tingkat keparahan gejala setiap orang tidak selalu sama. Sebagian pria dengan pembesaran prostat bahkan tidak mengalami keluhan berarti.
Kenali faktor risiko BPH
Usia merupakan salah satu faktor risiko utama pembesaran prostat. Selain itu, beberapa faktor lain juga dikaitkan dengan kemungkinan mengalami BPH, antara lain:
- Riwayat keluarga. Pria yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan prostat perlu memperhatikan kesehatan saluran kemihnya.
- Berat badan berlebih. Obesitas berkaitan dengan risiko gangguan metabolik yang juga dapat berhubungan dengan masalah kesehatan prostat.
- Kurang aktivitas fisik. Kebiasaan kurang bergerak dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan dan perlu diperbaiki.
- Kondisi kesehatan tertentu. Diabetes dan penyakit jantung termasuk kondisi yang dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH.
Faktor-faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti mengalami pembesaran prostat. Penyebab BPH bersifat kompleks dan berkaitan antara lain dengan perubahan biologis yang terjadi seiring pertambahan usia.
Gejala yang tidak boleh diabaikan
BPH dapat menimbulkan berbagai gangguan berkemih, seperti sulit memulai buang air kecil, aliran urine melemah, sering terbangun pada malam hari untuk berkemih, serta perasaan kandung kemih belum kosong setelah buang air kecil.
Apabila penyumbatan semakin berat dan tidak ditangani, BPH dapat menyebabkan retensi urine, yaitu kondisi ketika kandung kemih tidak dapat dikosongkan dengan baik atau urine sama sekali tidak bisa keluar. Gangguan aliran urine yang berat juga berpotensi merusak fungsi kandung kemih dan ginjal.
Karena itu, pria yang mengalami perubahan pola berkemih secara berulang sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, khususnya jika keluhan semakin mengganggu.
Langkah menjaga kesehatan prostat
Tidak semua faktor risiko BPH dapat dicegah, terutama yang berkaitan dengan usia dan riwayat keluarga. Namun, sejumlah kebiasaan sehat dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan mengurangi dampak faktor risiko yang bisa dimodifikasi.
Langkah yang dapat dilakukan antara lain menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, menerapkan pola makan seimbang, serta mengendalikan penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi.
Pemeriksaan medis juga penting apabila muncul keluhan. Pria berusia lanjut, terutama yang sudah mengalami gangguan berkemih, sebaiknya tidak menunda konsultasi untuk mengetahui penyebabnya.
Pemeriksaan prostat tidak selalu berarti harus menjalani operasi. Dokter akan menentukan penanganan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan, kondisi kesehatan, dan dampak keluhan terhadap kualitas hidup.
Dengan mengenali faktor risiko dan gejala sejak awal, gangguan prostat dapat dievaluasi lebih cepat sehingga penanganan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasien.






