sariasih.id - Ketika anak mengalami haus berlebihan, sering buang air kecil atau berat badan turun tanpa sebab jelas, orang tua perlu memperhatikan apakah gejala tersebut muncul bersamaan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda diabetes dan perlu diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis.
Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Ciputat, Kota Tangerang Selatan, dr. Dinar Handayani, SpA, mengatakan penanganan diabetes pada anak harus diawali dengan diagnosis lengkap.
“Jika beberapa kondisi atau gejala tersebut ada namun berat badannya malah turun secara drastis itu bisa kita curigai anak kita terserang diabetes,” tegas dr. Dinar Handayani, SpA.
Menurutnya, setelah diabetes dicurigai, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi anak sekaligus menentukan jenis diabetes yang dialami. Hasil diagnosis kemudian menjadi dasar dalam menentukan terapi.
Bagaimana Mengenali Kecurigaan Diabetes?
Diabetes pada anak dapat menunjukkan sejumlah gejala yang mudah dikenali di rumah.
Disebut dr. Dinar, beberapa di antaranya adalah rasa haus berlebihan, sering pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil serta pola makan yang tidak biasa. Anak dapat tetap merasa lapar meskipun sudah beberapa kali makan.
Jika kondisi tersebut disertai penurunan berat badan secara drastis, orang tua perlu membawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
WHO mencatat gejala umum diabetes meliputi rasa haus dan lapar berlebihan, sering buang air kecil, kelelahan, penglihatan kabur dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan. Pada diabetes tipe 1, gejala dapat berkembang cepat dalam hitungan hari hingga minggu.
Bagaimana Dokter Memastikan Diabetes?
Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seorang anak mengalami diabetes.
WHO menjelaskan bahwa diagnosis diabetes dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah. Pemeriksaan yang umum digunakan antara lain gula darah puasa dan tes toleransi glukosa oral, dengan metode lain dapat digunakan sesuai kebutuhan klinis.
Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menentukan jenis diabetes serta terapi yang diperlukan.
Hal ini penting karena diabetes tipe 1 dan tipe 2 memiliki mekanisme berbeda. Pada diabetes tipe 1, tubuh tidak lagi memproduksi insulin secara memadai akibat proses autoimun dan pasien membutuhkan insulin. Sementara pada diabetes tipe 2, tubuh mengalami masalah dalam menggunakan insulin dan secara bertahap produksi insulin juga dapat menurun.
Bagaimana Penanganan Diabetes pada Anak?
Dijelaskan dr Dinar penanganan diabetes pada anak membutuhkan diagnosis lengkap yang kemudian disesuaikan dengan tipe diabetes sebelum terapi diberikan.
Untuk diabetes tipe 1, insulin merupakan bagian penting dari terapi. WHO menegaskan bahwa diabetes tipe 1 belum dapat dicegah saat ini, tetapi kondisi tersebut dapat dikelola dengan perawatan yang tepat.
Sementara pada diabetes tipe 2, perubahan gaya hidup menjadi bagian penting dari pengelolaan penyakit. WHO merekomendasikan aktivitas fisik, pola makan sehat dan pengelolaan berat badan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko dan mengendalikan diabetes tipe 2.
International Diabetes Federation juga menekankan pentingnya diagnosis dan penanganan diabetes tipe 1 secara dini. IDF bersama ISPAD menyebut keterlambatan diagnosis dapat menunda pemberian terapi yang dibutuhkan dan meningkatkan risiko komplikasi serius.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter?
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai kondisi anak memburuk. Ketika anak mengalami kombinasi gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, terus merasa lapar dan berat badan turun tanpa sebab jelas, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan.
Terlebih jika terdapat riwayat diabetes dalam keluarga atau anak memiliki faktor risiko lain.
Pemeriksaan bukan berarti setiap anak dengan satu gejala pasti menderita diabetes. Tujuannya adalah memastikan penyebab keluhan melalui pemeriksaan yang tepat.
WHO juga menekankan bahwa deteksi dan pengelolaan diabetes yang baik dapat membantu mencegah kerusakan organ akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika orang tua menemukan perubahan yang tidak biasa pada kondisi anak, langkah paling aman adalah berkonsultasi dengan dokter dan tidak melakukan diagnosis sendiri.






