sariasih.id - Periode usia 0 hingga 3 tahun adalah masa krusial yang kerap disebut sebagai golden period atau periode emas. Pada fase ini, arsitektur otak dan tubuh anak sedang dibangun dengan kecepatan yang tidak akan pernah terulang lagi di sisa hidupnya.
Namun, proses krusial ini kerap terhambat oleh masalah klasik yang masih menjadi fokus utama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI: malnutrisi dan stunting. Asupan gizi yang tidak tepat, sekecil apapun, bisa memicu kerusakan yang berdampak pada kualitas hidup anak secara jangka panjang.
Dokter Spesialis anak RS Sari Asih Sangiang, dr. Rahardi Mokhtar, Sp.A, menegaskan bahwa definisi malnutrisi yang sering dipahami masyarakat kerap keliru. "Malnutrisi itu bukan cuma soal perut kosong atau kekurangan kalori secara kuantitas. Malnutrisi adalah kekurangan mikronutrien penting yang sangat dibutuhkan tubuh untuk berkembang, seperti zat besi, vitamin A, dan protein," paparnya.
Ketika seorang anak tidak mendapatkan asupan mikronutrien tersebut secara konsisten, tubuh akan mulai menunjukkan tanda-tanda malnutrisi akut. Tanda yang paling mudah diamati adalah berat dan tinggi badan yang tertinggal jauh atau tidak sesuai dengan usianya jika dirujuk pada kurva pertumbuhan WHO (kondisi ini secara umum dikenal sebagai stunting).
Selain itu, anak malnutrisi cenderung tampak lesu, sangat mudah terserang penyakit, mengalami kerontokan rambut yang tidak wajar, dan menunjukkan keterlambatan perkembangan kognitif maupun motorik dibandingkan teman sebayanya.
Akar masalah dari kondisi kurang gizi ini sangat kompleks dan berlapis. Penyebab umumnya sering bermula dari pemberian Air Susu Ibu (ASI) yang tidak optimal di enam bulan pertama, dilanjutkan dengan pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang miskin keragaman gizi atau tidak seimbang proporsi protein hewaninya. Faktor lain yang memperburuk keadaan adalah infeksi penyakit yang berulang (seperti diare dan ISPA), serta faktor sanitasi lingkungan dan kondisi ekonomi keluarga.
Kemenkes RI secara tegas memperingatkan bahwa dampak stunting bersifat permanen dan sangat sulit dikoreksi apabila anak sudah melewati usia emasnya. Kecerdasan otak tidak akan mampu berkembang maksimal, dan imunitas tubuh yang sangat rendah membuat anak terjebak dalam siklus "sakit-sakitan" yang berkesinambungan.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati kerusakannya. Orang tua dituntut untuk selalu proaktif merawat anak sepenuh hati dengan rutin memantau grafik pertumbuhannya. Layanan konsultasi tumbuh kembang di Klinik Anak RS Sari Asih Sangiang hadir untuk mempermudah orang tua mendapatkan akses evaluasi kesehatan yang akurat, serta panduan medis yang tepat dalam mengejar ketertinggalan gizi anak.






