sariasih.id - Imunisasi menjadi salah satu fondasi penting dalam upaya melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Namun, tantangan pemerataan imunisasi masih dihadapi Indonesia, termasuk memastikan anak yang belum mendapatkan imunisasi sama sekali dapat segera memperoleh layanan.
Kementerian Kesehatan RI pada Mei 2026 menyebut cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia mencapai 80,2 persen pada 2025. Meski demikian, masih terdapat hampir 960.000 anak yang masuk kategori zero-dose, yakni belum menerima imunisasi sama sekali. Pemerintah kemudian menempatkan kelompok tersebut sebagai salah satu fokus penguatan program imunisasi nasional.
Salah satu vaksin yang menjadi bagian dari program imunisasi rutin adalah Pneumococcal Conjugate Vaccine atau PCV. Vaksin tersebut ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit akibat bakteri pneumokokus, termasuk pneumonia.
Dokter Spesialis Anak RS Sari Asih Karawaci, Kota Tangerang, dr. Rahardi Mokhtar, Sp.A, mengatakan imunisasi menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu mencegah pneumonia pada anak.
“Rutin melakukan vaksinasi dan imunisasi, yang salah satunya adalah imunisasi PCV. Imunisasi PCV dapat mencegah pneumonia atau infeksi pneumokokus pada anak,” ujar dr. Rahardi.
Kemenkes RI menjelaskan bahwa PCV diberikan dalam tiga dosis pada usia 2 bulan, 3 bulan dan 12 bulan. Pelayanan imunisasi dapat dilakukan melalui fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan imunisasi.
Rekomendasi tersebut sejalan dengan WHO. Organisasi kesehatan dunia itu merekomendasikan PCV dimasukkan ke dalam program imunisasi anak secara rutin. WHO juga mencatat bahwa penggunaan PCV di berbagai negara telah menurunkan kejadian penyakit serius yang disebabkan oleh serotipe pneumokokus yang tercakup dalam vaksin.
WHO pada September 2025 juga memperbarui position paper mengenai vaksin pneumokokus untuk bayi dan anak usia di bawah 5 tahun. Pembaruan tersebut mencakup perkembangan bukti ilmiah dan rekomendasi mengenai penggunaan PCV dalam program imunisasi.
Namun, imunisasi bukan satu-satunya cara mencegah pneumonia. Orang tua juga perlu memperhatikan kebersihan tangan, menghindarkan anak dari asap rokok, memastikan asupan gizi yang baik serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan ketika muncul tanda penyakit yang mengkhawatirkan.
Dokter Rahardi mengingatkan orang tua agar tidak menunda pemeriksaan apabila anak mengalami gejala yang semakin berat, seperti demam tinggi, napas berat atau tidak mau makan.
Upaya melindungi anak dari pneumonia pada akhirnya membutuhkan kombinasi antara imunisasi, lingkungan yang sehat, pemenuhan kebutuhan gizi, serta deteksi dan penanganan penyakit secara dini.






