Merokok dan Alkohol Jadi Faktor Risiko Katarak, Kenali Gejalanya

Merokok dan Alkohol Jadi Faktor Risiko Katarak, Kenali Gejalanya

sariasih.id -  Kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol menjadi salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya katarak. Selain kebiasaan tersebut, katarak juga dapat dipicu oleh pertambahan usia serta sejumlah penyakit seperti diabetes melitus dan hipertensi.

Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata berubah menjadi keruh atau berkabut. Pada tahap awal, kondisi ini umumnya tidak terlalu mengganggu penglihatan. Namun, seiring perkembangannya, penderita dapat mengalami penglihatan berbayang hingga objek yang dilihat tampak seperti tertutup kabut.

Dokter Spesialis Mata RS Sari Asih Karawaci Tangerang, dr Anggitya Rullantika, SpM, mengatakan katarak merupakan penyakit yang menyebabkan lensa mata menjadi keruh dan berkabut.

“Penyebab paling umum adalah bertambahnya usia. Penuaan menyebabkan perubahan pada jaringan mata yang membuat lensa semakin tebal dan tidak lentur,” ujar dr Anggitya Rullantika, SpM.

Menurutnya, selain faktor usia, terdapat sejumlah faktor risiko lain yang dapat memicu terjadinya katarak. Di antaranya adalah diabetes melitus, hipertensi, kebiasaan merokok serta konsumsi minuman beralkohol.

“Paling umum ditemui karena faktor penuaan, namun beberapa faktor risiko juga bisa terjadi semisal pada penderita diabetes melitus, hipertensi serta kebiasaan merokok dan minuman beralkohol,” sebut dr Anggitya Rullantika, SpM, Selasa (26/08/2026).

Jika katarak sudah terjadi, dokter akan melakukan diagnosis secara menyeluruh dengan bantuan alat penunjang untuk mengetahui tingkat keparahannya. Apabila kondisi katarak sudah berat dan mulai mengganggu penglihatan, penanganan dapat dilakukan melalui prosedur operasi.

“Tindakan operasi yang dilakukan pada penderita katarak tidak membutuhkan rawat inap, dan berlangsung aman karena hanya melakukan irisan kecil pada tepi kornea. Setelah tindakan, penderita katarak bisa beraktivitas seperti biasa,” lanjut dr Anggitya Rullantika, SpM.

Pada umumnya, katarak tidak kembali muncul setelah dilakukan operasi. Namun, sebagian masyarakat masih khawatir kondisi tersebut dapat terjadi kembali, terutama apabila pola hidup tidak dijaga.

dr Anggitya Rullantika, SpM, menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian, sekitar 20 persen pasien katarak kembali ke fasilitas kesehatan dalam kurun waktu satu hingga lima tahun setelah menjalani operasi. Kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya katarak sekunder.

“Katarak yang muncul kembali pasca operasi disebut katarak sekunder. Diperlukan terapi khusus untuk menghilangkannya, hanya saja teknik yang dilakukan berbeda, yaitu harus menggunakan sinar laser,” tambah dr Anggitya Rullantika, SpM.

Salah satu terapi yang dapat dilakukan adalah Fotokoagulasi Laser. Terapi tersebut merupakan salah satu tindakan yang paling sering digunakan untuk membantu pasien yang mengalami kondisi terkait katarak setelah operasi, sekaligus sebagai upaya mencegah komplikasi yang lebih serius.

Dengan demikian, menjaga pola hidup serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala menjadi langkah penting untuk mengenali gangguan penglihatan sejak dini dan menentukan penanganan yang sesuai.


Tips Kesehatan Terkait

Chat Info

Layanan Online atau Tanya Informasi Lainnya. Operasional : 08:00 - 22:00