Dokter Paru RS Sari Asih Ungkap Risiko Polusi & Debu Vulkanik Bagi Paru-Paru

Dokter Paru RS Sari Asih Ungkap Risiko Polusi & Debu Vulkanik Bagi Paru-Paru

sariasih.id - Perubahan status pandemi COVID-19 menjadi endemi telah membuat kewajiban penggunaan masker di tempat umum mulai dilonggarkan. Namun, ancaman serius terhadap kesehatan paru-paru dan saluran pernapasan belum usai. Selain masalah polusi udara yang terus menghantui wilayah perkotaan, masyarakat kini juga dihadapkan pada paparan debu vulkanik menyusul meningkatnya aktivitas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia.

Pencemaran udara dan paparan debu vulkanik merupakan persoalan kesehatan lingkungan yang patut diwaspadai karena berpotensi merusak fungsi respirasi. Dampak kesehatan yang ditimbulkan tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan data Global Burden Disease 2019, Diseases and Injuries Collaborators, gangguan respirasi terbukti menjadi salah satu pemicu kematian dengan volume yang tinggi.

Di Indonesia, dari per 100.000 penduduk, terdapat 10 penyakit terbanyak akibat gangguan proses pertukaran gas tersebut. Empat di antaranya mencatatkan angka kematian yang sangat signifikan, yaitu Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) dengan 78,3 ribu kematian, pneumonia sebesar 52,5 ribu kematian, kanker paru mencatatkan 28,6 ribu kematian, serta asma dengan 27,6 ribu kematian.

Melihat tingginya ancaman tersebut, upaya pencegahan perlu dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Sari Asih Ciputat, Kota Tangerang Selatan, dr. Anti Dwijayanti, Sp.P, mengungkapkan bahwa kualitas udara buruk yang tak kasat mata umumnya mengandung berbagai kombinasi partikel bermasalah. Di antaranya adalah debu (termasuk partikel debu vulkanik), zat iritatif, gas beracun, zat korosif, hingga mikroorganisme.

“Udara tidak baik itu bisa berasal dari dalam dan luar ruangan. Dan jika semua unsur tersebut masuk atau terhirup ke tubuh akan sangat membahayakan kesehatan terutama di bagian paru,” papar dr. Anti Dwijayanti, Sp.P.

Secara alami, tubuh manusia sebenarnya dirancang memiliki mekanisme perlindungan diri apabila terdapat benda asing yang masuk ke dalam saluran pernapasan. Menurut dr. Anti, gejala awal yang umum dirasakan sebagai respons pertahanan tubuh adalah rasa sesak dan batuk. Jika gejala ini muncul, masyarakat disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Meski demikian, dr. Anti menegaskan bahwa rasa sesak dan batuk tidak secara otomatis disebabkan oleh polusi udara atau paparan debu vulkanik semata. Diperlukan pemeriksaan klinis terlebih dahulu untuk memastikan penyebab utamanya. Namun, apabila pasien sudah memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan sebelumnya, paparan polusi dan debu vulkanik dapat berperan sebagai induksi atau pemicu tambahan yang memperburuk kondisi pasien.

Sebagai langkah pencegahan utama guna melepaskan diri dari ancaman infeksi paru, penerapan pola hidup sehat tetap harus diprioritaskan. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah melakukan olahraga secara rutin. Meski demikian, dr. Anti mengingatkan agar masyarakat selalu memantau Indeks Kualitas Udara (AQI) serta kondisi sebaran debu di lingkungan sekitar sebelum beraktivitas di luar ruangan. Apabila tingkat keparahan udara memburuk, masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas luar dan beralih ke olahraga di dalam ruangan.


Tips Kesehatan Terkait

Chat Info

Layanan Online atau Tanya Informasi Lainnya. Operasional : 08:00 - 22:00