Asam Lambung Sering Kambuh? Kenali Penanganan Dini GERD

Asam Lambung Sering Kambuh? Kenali Penanganan Dini GERD

sariasih.id - Keluhan berupa rasa panas di dada, rasa asam yang naik ke tenggorokan atau regurgitasi yang muncul berulang sebaiknya tidak terus-menerus diatasi dengan pengobatan sendiri. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD) dan membutuhkan penilaian medis apabila keluhan menetap atau berulang.

Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa GERD merupakan kondisi ketika isi lambung mengalami refluks ke esofagus atau kerongkongan. Gejala yang umum antara lain rasa terbakar di dada, mulas dan regurgitasi, yang sering kali muncul setelah makan dan dapat memburuk ketika berbaring atau membungkuk.

Menurut Dokter Umum RS Sari Asih Sangiang, dr Siti Nur Rokhmah Firda Fauziyah, diagnosis GERD tidak cukup hanya berdasarkan istilah “maag” atau “asam lambung”.

“Dokter akan menilai keluhan, riwayat kesehatan, penggunaan obat, serta kemungkinan penyakit lain yang dapat menimbulkan gejala serupa,” ujar dr. Firda.

Pada sebagian pasien dengan gejala khas tanpa tanda bahaya, dokter dapat melakukan evaluasi berdasarkan gejala dan memberikan terapi awal tanpa langsung melakukan pemeriksaan endoskopi.

Dalam penanganannya, dokter dapat mempertimbangkan beberapa jenis obat sesuai kondisi pasien, antara lain antasida, antagonis reseptor H2 atau proton pump inhibitor (PPI).

PPI merupakan salah satu terapi utama untuk GERD. Obat tersebut bekerja dengan mengurangi produksi asam sehingga dapat membantu mengendalikan gejala dan memberikan kesempatan bagi lapisan kerongkongan yang mengalami iritasi untuk mengalami penyembuhan.

Pedoman praktik klinis Kementerian Kesehatan juga memuat penggunaan terapi penekan asam serta modifikasi gaya hidup sebagai bagian dari tata laksana GERD pada pelayanan kesehatan lini pertama. Pedoman tersebut antara lain mencantumkan penurunan berat badan, berhenti merokok, mengatur posisi tidur dan memberikan jarak waktu setelah makan sebelum tidur.

Meski demikian, penggunaan obat tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan anjuran tenaga medis, terutama apabila obat diperlukan secara berulang atau keluhan berlangsung dalam waktu lama.

Diingatkan dr. Firda, masyarakat agar tidak langsung melakukan diet terlalu ketat ketika mengalami GERD.

“Tidak semua pasien GERD memiliki pemicu makanan yang sama. Karena itu, daripada menghindari banyak jenis makanan sekaligus, pasien dapat memperhatikan pola keluhan dan mengidentifikasi makanan atau minuman tertentu yang memang terbukti memperburuk gejala,” jelasnya.

Pola makan seimbang tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Pasien dapat mencatat makanan atau minuman yang secara konsisten memicu keluhan sehingga perubahan pola makan menjadi lebih terarah.

Pemeriksaan endoskopi juga tidak selalu diperlukan pada setiap orang yang mengalami gejala GERD. Dokter dapat mempertimbangkan endoskopi apabila terdapat tanda bahaya, kecurigaan komplikasi, faktor risiko tertentu atau gejala yang tidak membaik dengan terapi yang sesuai.

Pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemantauan refluks, dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, terutama ketika diagnosis belum jelas atau keluhan menetap meskipun pasien telah mendapatkan terapi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan penguatan deteksi dan tindak lanjut kesehatan yang dilakukan Kementerian Kesehatan melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pada 2026, Kemenkes menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan harus dilanjutkan dengan tata laksana, pemantauan dan rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Hingga 31 Juli 2026, Kemenkes mencatat 73,8 juta penduduk telah mengikuti CKG. Program tersebut tersedia melalui lebih dari 10.000 puskesmas, sekolah dan komunitas.

“Jangan biasakan menahan atau mengabaikan keluhan yang terus berulang. Jika gejala semakin sering, mengganggu aktivitas atau tidur, maupun disertai tanda bahaya, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat,” ujar dr. Firda.

RS Sari Asih Sangiang mengimbau masyarakat tidak melakukan diagnosis sendiri berdasarkan istilah “maag” atau “asam lambung”. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan apabila keluhan menetap, berulang atau tidak membaik dengan perubahan gaya hidup.


Tips Kesehatan Terkait