sariasih.id - Obesitas pada anak muda bukan sekadar persoalan penampilan atau berat badan berlebih. Kondisi ini merupakan masalah kesehatan kronis yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari diabetes tipe 2, hipertensi, gangguan hati, hingga penyakit jantung dan stroke.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Sangiang, dr. Ahmad Mekkah, Sp.PD., M.Sc., M.Kes, mengingatkan bahwa obesitas pada usia muda perlu mendapat perhatian serius karena komplikasinya dapat muncul jauh lebih awal dari yang diperkirakan.
Menurut dr. Ahmad, obesitas merupakan penumpukan lemak berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Penilaiannya tidak hanya berdasarkan penampilan fisik, tetapi juga menggunakan pemeriksaan medis, salah satunya Indeks Massa Tubuh (IMT).
Berdasarkan kriteria Asia Pasifik, IMT 23–24,9 kg/m² termasuk overweight, sedangkan IMT 25 kg/m² atau lebih termasuk obesitas.
Kenali Tanda Obesitas yang Sering Diabaikan
Ada sejumlah tanda yang perlu diperhatikan pada anak muda dengan obesitas. Salah satunya adalah munculnya bercak kulit gelap dan menebal di area lipatan leher, ketiak, atau selangkangan yang dikenal sebagai acanthosis nigricans.
Kondisi tersebut dapat menjadi tanda resistensi insulin, yaitu ketika sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal.
Selain itu, beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi:
- Mudah lelah meskipun tidak melakukan aktivitas berat.
- Mendengkur saat tidur yang dapat berkaitan dengan gangguan tidur seperti sleep apnea.
- Nyeri lutut dan persendian akibat beban tubuh berlebih.
- Peningkatan berat badan yang sulit dikendalikan.
Obesitas Meningkatkan Risiko Penyakit Metabolik
Lebih jauh dijelaskan dr. Ahmad, obesitas berkaitan erat dengan resistensi insulin yang dapat berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2. Bahkan, penyakit ini semakin perlu diwaspadai pada kelompok usia muda.
Penumpukan lemak juga dapat terjadi di organ hati dan memicu penyakit perlemakan hati terkait disfungsi metabolik. Jika berkembang, kondisi tersebut dapat menyebabkan peradangan hingga kerusakan hati.
Risiko lainnya adalah hipertensi dan gangguan kadar kolesterol yang dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Pada perempuan, obesitas juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, termasuk sindrom ovarium polikistik (PCOS), yang dapat menyebabkan gangguan menstruasi dan masalah kesuburan.
Pemeriksaan Medis Penting untuk Mencegah Komplikasi
Menurut dr. Ahmad, penanganan obesitas tidak cukup hanya mengandalkan diet mandiri. Pasien perlu mendapatkan evaluasi kesehatan secara menyeluruh, terutama apabila sudah memiliki faktor risiko penyakit metabolik.
Di RS Sari Asih Sangiang, penanganan dapat meliputi pemeriksaan gula darah, HbA1c, profil kolesterol, dan fungsi hati sesuai indikasi medis.
Terapi juga dapat melibatkan pengobatan untuk mengendalikan penyakit penyerta serta kolaborasi dengan dokter spesialis gizi klinik dan tenaga kesehatan lainnya.
"Kami tidak hanya fokus pada angka di timbangan, tetapi pada perbaikan fungsi organ dan kualitas hidup pasien," ujar dr. Ahmad.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya anak muda, untuk tidak mengabaikan kenaikan berat badan berlebih, terutama jika disertai keluhan mudah lelah, mendengkur, atau muncul bercak gelap pada lipatan kulit.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengenali risiko kesehatan dan menentukan penanganan yang tepat.






