sariasih.id - Keluhan yang kerap disebut masyarakat sebagai “penyakit asam lambung” cukup umum terjadi. Salah satu kondisi yang berkaitan dengan keluhan tersebut adalah gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu kondisi ketika isi lambung berulang kali naik kembali ke kerongkongan dan menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI menjelaskan, GERD terjadi ketika asam lambung dan isi perut mengalir kembali ke kerongkongan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan sensasi panas atau terbakar di dada yang dikenal sebagai heartburn. Gejala lain yang dapat muncul antara lain mual, rasa pahit di mulut, makanan kembali ke mulut atau regurgitasi, sulit menelan, batuk kronis hingga suara serak.
Menurut Dokter Umum RS Sari Asih Sangiang, dr Siti Nur Rokhmah Firda Fauziyah, pencegahan dan penanganan dini penting dilakukan untuk membantu mengendalikan gejala serta mencegah terjadinya komplikasi.
“Pencegahan dapat dilakukan dengan memperhatikan pola makan, menjaga berat badan, berhenti merokok dan mengatur posisi tidur, terutama bagi pasien yang sering mengalami keluhan pada malam hari,” ujar dr. Firda.
Dalam mengatur pola makan, pasien disarankan tidak makan dalam jumlah sangat banyak sekaligus. Porsi yang lebih kecil namun dapat dilakukan lebih sering. Selain itu, berikan jarak setidaknya 2–3 jam antara makan dan berbaring atau tidur.
Pasien juga perlu mengenali makanan atau minuman yang secara konsisten memicu keluhan. Makanan asam, pedas dan minuman bersoda dapat menjadi pemicu pada sebagian orang. Namun, tidak semua makanan tersebut harus dihindari oleh setiap pasien karena pemicu dapat berbeda pada masing-masing individu.
Menjaga berat badan juga menjadi bagian dari upaya mengendalikan GERD. Pada orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, penurunan berat badan dapat membantu mengurangi gejala karena berat badan yang lebih ideal dapat mengurangi tekanan pada area perut.
Kebiasaan merokok juga perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya refluks dan memperburuk keluhan pada sebagian orang.
Untuk pasien yang sering mengalami gejala pada malam hari, posisi tidur dapat disesuaikan. Bagian kepala tempat tidur dapat ditinggikan sekitar dua bantal atau menggunakan wedge khusus sehingga kepala dan dada ikut terangkat.
Upaya pencegahan tersebut sejalan dengan prinsip pengendalian faktor risiko dan deteksi dini yang terus diperkuat Kementerian Kesehatan. Pada 2026, Kemenkes menekankan bahwa program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dilanjutkan dengan edukasi, penanganan, pemantauan hingga rujukan apabila diperlukan.
Kemenkes juga menetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/84/2026 bahwa CKG dilaksanakan setiap tahun untuk membantu mencegah dan menangani faktor risiko, kondisi pra-penyakit serta penyakit secara dini.
Meski demikian, keluhan asam lambung yang berulang tetap perlu mendapatkan penilaian tenaga medis. Masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan seluruh keluhan di ulu hati atau dada sebagai GERD karena terdapat kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
“Jangan biasakan menahan atau mengabaikan keluhan yang terus berulang. Jika gejala semakin sering, mengganggu aktivitas atau tidur, maupun disertai tanda bahaya, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat,” ujar dr. Firda.
RS Sari Asih Sangiang mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan diagnosis sendiri berdasarkan istilah “maag” atau “asam lambung”. Keluhan saluran cerna dapat memiliki berbagai penyebab sehingga pemeriksaan oleh tenaga medis tetap diperlukan apabila keluhan menetap atau berulang.






