sariasih.id - Fenomena revenge bedtime procrastination atau sindrom psikologis di mana seseorang menunda waktu tidur untuk mencari hiburan di malam hari sebagai "balas dendam" atas waktu luang yang tersita oleh pekerjaan kini kian marak di kalangan pekerja muda. Kebiasaan scrolling media sosial atau menonton layanan streaming hingga dini hari ternyata menjadi jalur cepat menuju hipertensi.
Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), Kementerian Kesehatan RI terus mengampanyekan pentingnya istirahat yang cukup, yakni 7 hingga 8 jam tidur berkualitas per malam. Kurang tidur kronis diketahui secara langsung merusak ritme sirkadian tubuh yang mengatur regenerasi sel dan tekanan darah.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Ciledug, dr. Astri Handayani, Sp.PD, membuka bahaya medis dari kebiasaan begadang ini. "Secara alamiah, saat kita tidur pulas di malam hari, tekanan darah akan turun sekitar 10 hingga 20 persen. Fase ini disebut nocturnal dipping, waktu bagi jantung untuk beristirahat. Ketika anak muda memaksakan diri tetap terjaga akibat paparan blue light dari gadget, fase istirahat ini hilang," urai dr. Astri.
Ia memperingatkan bahwa hilangnya fase penurunan tekanan darah di malam hari merupakan prediktor kuat terjadinya penyakit kardiovaskular fatal di kemudian hari. "Jantung terus dipaksa bekerja pada mode siaga. Akumulasi dari kurang tidur ini mengacaukan sistem saraf simpatik, yang pada akhirnya memicu hipertensi permanen meski usia pasien masih berkisar 25 hingga 30 tahun," tegasnya.
Mengatasi masalah ini membutuhkan disiplin pembatasan digital. Otoritas medis merekomendasikan digital detox atau menjauhkan ponsel pintar setidaknya satu jam sebelum waktu tidur yang ditargetkan. Mengembalikan rutinitas tidur yang konsisten adalah investasi paling murah namun paling vital untuk menjaga tekanan darah tetap stabil di usia muda.






