sariasih.id - Perubahan suasana hati merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Namun, ketika perubahan tersebut berlangsung ekstrem, sulit dikendalikan, disertai perubahan kebutuhan tidur, aktivitas, pola pikir hingga perilaku berisiko, kondisi itu perlu mendapat perhatian lebih serius.
Salah satu kondisi yang berkaitan dengan perubahan suasana hati tersebut adalah gangguan bipolar. Gangguan ini ditandai dengan perubahan suasana perasaan dari kondisi depresi hingga episode manik. Karena itu, perubahan mood sehari-hari tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami bipolar.
Spesialis Kedokteran Jiwa RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, dr. Azizah Azzahra, SpKJ, menjelaskan bahwa bipolar merupakan gangguan yang berkaitan dengan perasaan, pemikiran dan tindakan seseorang.
“Orang dengan gangguan biopolar bisa merasakan energi yang berlebih, penuh semangat meski tidur hanya beberapa jam saja, banyak bicara dan penuh ide-ide. Bisa juga mengalami emosi yang meledak-ledak tidak terkendali dan tiba-tiba merasa bersalah dan meminta maaf. Sulit fokus dan perhatiannya mudah teralihkan, serta sulit bersosialisasi dan menjalin hubungan,” ujar dr. Azizah Azzahra, SpKJ, MKes.
Menurutnya, salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian adalah bipolar tipe satu. Pada kondisi tersebut dapat terjadi episode manik atau campuran yang kemudian diikuti episode depresi mayor. Gangguan perasaan yang muncul dapat sangat mengganggu hingga penderitanya kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bukan sekadar sulit tidur
Dijelaskan dr. Azizah, episode manik bukan sekadar kondisi seseorang mengalami insomnia atau tidak bisa tidur. Yang terjadi justru dapat berupa berkurangnya kebutuhan tidur, ketika seseorang hanya tidur beberapa jam tetapi tetap merasa bersemangat dan mampu beraktivitas.
“Manik itu disebut adanya peningkatan perasaan, seperti bahagia dan semangat sekali atau bisa mudah marah atau tersinggung disertai adanya tiga gejala yang menetap seperti merasa diri hebat, kurang butuh tidur karena meski kurang tidur tapi masih tetap bersemangat melakukan aktivitas, terlalu banyak bicara, bicara berlebihan, banyak ide-ide baru yang muncul di pikirannya, perhatian yang mudah teralihkan, ada juga aktivitas berisiko semisal bisa melakukan kegiatan-kegiatan bisnis dan lainnya yang memiliki risiko tinggi,” terang dr. Azizah.
Kondisi episode manik tersebut dapat berlangsung sekitar 4-7 hari.
Sementara itu, episode depresi ditandai suasana perasaan yang menurun, murung, sedih, kurang energi dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan. Kondisi tersebut dapat disertai sulit berkonsentrasi, gangguan ingatan jangka pendek, perasaan hampa atau bersalah, perubahan pola makan serta gangguan tidur.
Depresi disebut sebagai episode depresi apabila gejalanya berlangsung selama dua minggu. Selain itu, pada bipolar juga dapat muncul gejala psikotik seperti halusinasi dan delusi, serta gangguan kognitif berupa pikiran yang berpacu dan kesulitan memusatkan perhatian.
Bipolar dapat berlangsung seumur hidup
Gangguan bipolar dapat berkaitan dengan faktor biologis, psikologis dan sosial. Faktor biologis antara lain genetik, kondisi otak dan ketidakseimbangan hormon. Dari sisi psikologis, terdapat kondisi tertentu yang dapat berkaitan dengan ketidakstabilan suasana hati, perilaku impulsif serta kesulitan membangun hubungan sosial.
Gejala bipolar dapat mulai terlihat pada usia 15-24 tahun, meskipun anak-anak juga dapat mengalaminya. Gangguan ini dapat berlangsung seumur hidup dan memiliki risiko kekambuhan yang tinggi.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menyimpulkan dirinya mengalami bipolar hanya karena mudah marah, sulit tidur atau mengalami perubahan mood. Diagnosis memerlukan penilaian lebih mendalam melalui pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.
“Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat untuk menstabilkan hormon dan psikoterapi untuk mendeteksi pemicu munculnya gangguan bipolar sehingga bisa dialihkan kepada hal-hal yang positif,” sebut dr. Azizah Azzahra, SpKJ, MKes.
Dengan demikian, perubahan suasana hati yang ekstrem, perilaku sulit dikendalikan, gangguan fungsi sehari-hari, maupun munculnya perilaku berisiko menjadi alasan untuk mendapatkan evaluasi profesional, termasuk dengan menemui psikiater.


