Dokter RS Sari Asih Bintaro Ingatkan Gejala Diabetes Sering Tidak Disadari Masyarakat

Dokter RS Sari Asih Bintaro Ingatkan Gejala Diabetes Sering Tidak Disadari Masyarakat

sariasih.id - Diabetes melitus masih menjadi salah satu penyakit metabolik yang perlu mendapat perhatian serius karena banyak penderita tidak menyadari kondisinya pada tahap awal. Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro, dr. Amelia Fitria Dewi, Sp.PD, mengingatkan masyarakat agar lebih mengenali tanda-tanda awal diabetes yang sering dianggap sebagai keluhan biasa.

Menurut dr. Amelia, sejumlah gejala seperti mudah lelah, sering merasa haus, dan meningkatnya frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari, dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan kadar gula darah.

"Banyak masyarakat baru datang memeriksakan diri ketika sudah mengalami komplikasi seperti gangguan penglihatan, luka yang sulit sembuh, atau masalah ginjal. Padahal, apabila diabetes ditemukan lebih awal melalui pemeriksaan gula darah rutin, pengelolaannya akan jauh lebih efektif," ujar dr. Amelia.

Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi ke-10, Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Indonesia berada dalam daftar lima besar negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 19 juta jiwa.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dirinya mengalami diabetes hingga muncul gangguan kesehatan akibat komplikasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular di Indonesia.

Mengenal Gejala Klasik Diabetes "3P"

Secara medis, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan berbagai perubahan pada tubuh. Salah satu tanda yang paling dikenal adalah gejala klasik diabetes atau sering disebut 3P, yaitu:

Poliuria (sering buang air kecil)

Kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan gula melalui urine. Akibatnya, penderita dapat mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama pada malam hari.

Polidipsia (sering merasa haus)

Banyaknya cairan tubuh yang keluar melalui urine dapat menyebabkan tubuh mengalami kekurangan cairan sehingga muncul rasa haus berlebihan.

Polifagia (sering merasa lapar)

Meskipun kadar gula dalam darah tinggi, sel tubuh tidak dapat menggunakan gula secara optimal akibat gangguan insulin. Kondisi ini membuat tubuh tetap merasa membutuhkan energi.

Selain gejala tersebut, masyarakat juga perlu memperhatikan perubahan lain seperti berat badan turun tanpa sebab jelas, kulit terasa kering dan gatal, luka yang sulit sembuh, serta penglihatan yang semakin kabur.

Diabetes Tidak Hanya Menyerang Usia Lanjut

dr. Amelia menjelaskan bahwa masih terdapat anggapan keliru di masyarakat bahwa diabetes hanya dialami orang lanjut usia atau mereka yang memiliki riwayat keluarga.

Padahal, diabetes tipe 2 juga dapat terjadi pada usia produktif akibat berbagai faktor seperti pola makan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, obesitas, kebiasaan merokok, serta tingkat stres yang tinggi.

"Merasa sehat bukan berarti seseorang terbebas dari diabetes. Penyakit ini sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan keluhan berat sehingga pemeriksaan gula darah tetap penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko," jelas dr. Amelia.

Faktor Risiko Diabetes yang Perlu Diwaspadai

Menurut dr. Amelia, faktor risiko diabetes dapat dibagi menjadi beberapa kelompok.

Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia, terutama di atas 35 tahun, serta adanya riwayat diabetes dalam keluarga.

Sementara faktor yang dapat dikendalikan antara lain berat badan berlebih atau obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi gula dan lemak, kebiasaan merokok, serta stres berkepanjangan.

Selain itu, beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan risiko diabetes, seperti hipertensi, gangguan kadar kolesterol, dan riwayat diabetes saat kehamilan.

Kenali Tanda Bahaya Diabetes dan Cegah Komplikasinya

Masyarakat disarankan segera melakukan pemeriksaan apabila mengalami tanda-tanda seperti kelelahan ekstrem yang mengganggu aktivitas, infeksi berulang pada kulit atau saluran kemih, serta sensasi kesemutan, kebas, atau rasa terbakar pada tangan dan kaki.

Diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi, mulai dari gangguan jantung, ginjal, saraf, hingga masalah penglihatan.

Untuk mengurangi risiko diabetes, masyarakat dapat memulai perubahan gaya hidup melalui pola makan seimbang, membatasi konsumsi minuman manis dan karbohidrat sederhana, meningkatkan konsumsi serat dari sayur dan buah, serta melakukan aktivitas fisik secara rutin.

Organisasi kesehatan merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu, seperti berjalan cepat atau bersepeda, untuk membantu menjaga kesehatan metabolik.

Selain perubahan gaya hidup, pemeriksaan gula darah secara berkala juga menjadi langkah penting, terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko.

dr. Amelia menegaskan bahwa deteksi dini merupakan kunci dalam mengendalikan diabetes dan mencegah komplikasi jangka panjang.

"Masyarakat tidak perlu menunggu munculnya keluhan berat untuk melakukan pemeriksaan. Semakin cepat diabetes diketahui, semakin besar peluang untuk mengendalikan kondisi tersebut dan menjaga kualitas hidup," tutup dr. Amelia.

BACA JUGA: Ancaman Senyap Diabetes Tipe 2 dan Obesitas pada Remaja: Jangan Anggap Remeh!


Tips Kesehatan Terkait

Chat Info

Layanan Online atau Tanya Informasi Lainnya. Operasional : 08:00 - 22:00