sariasih.id - Penyakit hepatitis masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Kondisi tersebut membuat banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah fungsi hati mengalami kerusakan yang cukup berat.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro, dr. Yoppi Kencana, Sp.PD, mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan nyeri atau rasa begah di perut kanan atas, terutama jika disertai gejala lain yang mengarah pada gangguan fungsi hati.
Menurut dr. Yoppi, hati merupakan organ vital yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kerusakan. Namun justru karena kemampuan tersebut, hepatitis kerap tidak menimbulkan keluhan pada fase awal sehingga banyak pasien datang ketika penyakit sudah berkembang menjadi sirosis atau bahkan kanker hati.
"Keluhan nyeri atau rasa penuh di perut kanan atas sering dianggap sebagai gangguan lambung atau masuk angin. Padahal pada kondisi tertentu, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan peradangan hati akibat hepatitis dan perlu dievaluasi lebih lanjut," jelas dr. Yoppi.
Secara anatomi, organ hati berada di bagian kanan atas rongga perut tepat di bawah tulang rusuk. Jaringan hati sendiri hampir tidak memiliki saraf perasa nyeri. Namun ketika terjadi peradangan akibat infeksi virus, hati dapat mengalami pembesaran (hepatomegali) sehingga meregangkan kapsul Glisson, yaitu lapisan yang menyelimuti hati dan memiliki banyak ujung saraf. Peregangan inilah yang kemudian memunculkan rasa tidak nyaman, begah, atau nyeri tumpul pada perut kanan atas.
Selain keluhan tersebut, hepatitis juga dapat disertai gejala lain seperti kelelahan yang tidak kunjung membaik, mual, muntah, hilangnya nafsu makan, urine berwarna gelap menyerupai teh, tinja berwarna pucat, hingga demam ringan. Pada sebagian penderita, perubahan warna kulit dan mata menjadi kuning juga dapat terjadi, meski gejala ini tidak selalu muncul.
"Banyak masyarakat mengira hepatitis selalu ditandai dengan mata kuning. Padahal Hepatitis B maupun Hepatitis C dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala khas, sementara kerusakan hati terus berjalan secara perlahan," ujar dr. Yoppi.
Penularan hepatitis berbeda pada setiap jenis virus. Hepatitis A dan Hepatitis E umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi akibat sanitasi yang kurang baik. Sementara Hepatitis B, Hepatitis C, dan Hepatitis D lebih banyak ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi, seperti penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah yang tidak aman, maupun hubungan seksual berisiko.
Lebih jauh dijelaskan dr. Yoppi, masih banyak kesalahpahaman di masyarakat yang menyebabkan keterlambatan diagnosis. Salah satunya adalah anggapan bahwa kelelahan berkepanjangan hanya disebabkan oleh aktivitas yang padat sehingga penderita memilih mengonsumsi obat atau suplemen tanpa pemeriksaan medis. Padahal beberapa jenis obat tertentu justru dapat memperberat kerja hati apabila dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
"Semakin dini hepatitis ditemukan, semakin besar peluang mencegah komplikasi serius. Pemeriksaan fungsi hati dan pemeriksaan laboratorium dapat membantu mengetahui kondisi hati sebelum terjadi kerusakan permanen," katanya.
Masyarakat juga diimbau segera mencari pertolongan medis apabila mengalami tanda bahaya seperti perut membesar akibat penumpukan cairan (asites), muntah darah, tinja berwarna hitam, penurunan kesadaran, kebingungan, atau kulit dan mata yang menguning secara cepat.
Untuk menurunkan risiko hepatitis, dr. Yoppi menyarankan masyarakat menjalani vaksinasi Hepatitis A dan Hepatitis B sesuai rekomendasi, menjaga kebersihan tangan, memastikan makanan dan minuman diolah secara higienis, tidak berbagi sikat gigi maupun alat cukur, serta menghindari perilaku yang meningkatkan risiko penularan virus.
Ia menegaskan bahwa kesadaran terhadap gejala awal merupakan langkah penting dalam mencegah kerusakan hati jangka panjang.
"Jangan menunggu sampai muncul komplikasi. Bila keluhan pada perut kanan atas berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain yang mengarah pada gangguan hati, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin," tutup dr. Yoppi.






