Cuaca Terik Picu 5 Penyakit Kulit, Dokter Ungkap yang Perlu Diwaspadai

Cuaca Terik Picu 5 Penyakit Kulit, Dokter Ungkap yang Perlu Diwaspadai

sariasih.id - Cuaca terik tidak hanya membuat tubuh lebih cepat berkeringat dan terasa gerah. Paparan panas, kelembapan, serta radiasi ultraviolet (UV) yang tinggi juga dapat memicu berbagai masalah pada kulit.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam sejumlah pemantauan cuaca mencatat kondisi relatif kering di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode musim kemarau. Kondisi minim tutupan awan pada waktu tertentu dapat membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara lebih optimal dan meningkatkan suhu udara pada siang hari.

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika (Sp.DVE) RS Sari Asih Ciputat, dr. Bimo Aryo Tejo, Sp.DVE, mengatakan peningkatan suhu membuat tubuh meningkatkan produksi keringat sebagai bagian dari mekanisme alami untuk mengatur suhu tubuh.

"Ketika cuaca terik, tubuh secara otomatis meningkatkan produksi keringat untuk menjaga suhu inti tubuh. Namun, keringat berlebih yang bercampur dengan kotoran dan polusi dapat memicu berbagai masalah kulit," ujar dr. Bimo.

Selain keringat, paparan sinar UV yang berlebihan juga menjadi perhatian karena dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut radiasi UV dapat menyebabkan kerusakan DNA, sunburn, penuaan kulit, hingga meningkatkan risiko kanker kulit akibat paparan berlebihan dalam jangka panjang.

1. Biang Keringat

Salah satu masalah kulit yang umum muncul ketika cuaca panas adalah biang keringat atau miliaria.

Kondisi ini terjadi ketika saluran keringat tersumbat sehingga keringat terperangkap di bawah permukaan kulit dan menimbulkan peradangan.

Biang keringat dapat ditandai dengan munculnya bintik-bintik kecil berwarna merah atau bening. Pada sebagian orang, kondisi tersebut disertai rasa gatal, perih, atau sensasi menyengat.

Bagian tubuh yang sering mengalami biang keringat antara lain dahi, leher, dada, punggung, serta area tubuh yang tertutup pakaian dan mudah berkeringat.

2. Kulit Terbakar Matahari

Masalah berikutnya adalah sunburn atau kulit terbakar akibat paparan sinar matahari berlebihan.

Paparan radiasi UV, terutama UV-B, dapat menyebabkan kerusakan pada sel kulit dan memicu peradangan. Gejalanya dapat berupa kulit kemerahan, terasa panas dan nyeri, hingga pembengkakan. Pada kondisi yang lebih berat, kulit dapat mengalami lepuhan.

Menurut WHO, UV-B merupakan penyebab utama sunburn. Paparan UV yang berlebihan juga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kulit dan penuaan dini pada kulit.

Karena itu, kulit yang menjadi merah dan terasa terbakar setelah berada di bawah matahari sebaiknya tidak dianggap sebagai sekadar perubahan warna kulit sementara.

3. Infeksi Jamur

Cuaca panas yang membuat tubuh lebih sering berkeringat juga dapat menciptakan kondisi lembap yang mendukung pertumbuhan jamur pada kulit.

Beberapa infeksi jamur yang umum antara lain kurap atau tinea corporis, kutu air atau tinea pedis, serta panu atau tinea versicolor.

Dr. Bimo mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan area lipatan tubuh yang cenderung lembap, seperti ketiak, lipatan paha, dan sela-sela jari kaki.

"Segera keringkan tubuh dengan handuk bersih setelah berkeringat atau mandi. Pastikan area lipatan paha, ketiak, dan sela jari kaki tidak lembap," katanya.

Menjaga kulit tetap kering menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi kondisi yang mendukung pertumbuhan jamur.

4. Jerawat

Cuaca panas juga dapat membuat produksi keringat dan minyak meningkat. Ketika bercampur dengan sel kulit mati serta kotoran, kondisi tersebut dapat menyebabkan pori-pori lebih mudah tersumbat dan memicu munculnya jerawat.

Namun, membersihkan wajah secara berlebihan bukan solusi.

Menurut dr. Bimo, wajah tetap perlu dibersihkan secara rutin, tetapi pembersihan yang terlalu agresif dapat mengganggu skin barrier dan justru berpotensi memperburuk masalah kulit.

Penggunaan produk yang bersifat non-komedogenik atau berbasis air juga dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi risiko penyumbatan pori.

5. Kulit Kering dan Dehidrasi

Banyak berkeringat bukan berarti kulit terbebas dari risiko kekeringan.

Ketika kebutuhan cairan tubuh tidak tercukupi, kulit dapat mengalami dehidrasi. Kondisinya dapat ditandai dengan kulit terasa kencang, kurang elastis, dan lebih mudah mengalami iritasi.

Pada orang yang memiliki kulit sensitif, kondisi kulit yang kering juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya dermatitis atau eksim.

Karena itu, menjaga asupan cairan tetap penting ketika aktivitas dan produksi keringat meningkat akibat cuaca panas.

Lindungi Kulit Saat Cuaca Terik

Lebih jauh dikatakan, dr. Bimo, ia menyarankan masyarakat tidak hanya mengandalkan perawatan kulit setelah masalah muncul, tetapi melakukan perlindungan sejak awal.

Salah satunya dengan menggunakan tabir surya dan mengaplikasikannya kembali secara berkala, terutama setelah berkeringat banyak atau berenang.

WHO juga merekomendasikan pembatasan paparan langsung matahari pada waktu ketika radiasi UV tinggi, mencari tempat teduh, menggunakan pakaian pelindung dan topi bertepi lebar, serta menggunakan sunscreen sebagai bagian dari perlindungan terhadap UV.

Selain itu, masyarakat dapat memilih pakaian yang longgar, ringan, dan mudah menyerap keringat. Menjaga tubuh tetap terhidrasi juga penting untuk membantu mempertahankan fungsi tubuh dan kondisi kulit.

Cuaca terik pada akhirnya bukan hanya persoalan rasa panas dan gerah. Kombinasi keringat, kelembapan, serta paparan UV dapat memberikan tekanan tambahan pada kulit.

Jika muncul ruam yang berat, nyeri, lepuhan, atau keluhan kulit yang tidak kunjung membaik, pemeriksaan oleh dokter spesialis kulit perlu dipertimbangkan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.


Tips Kesehatan Terkait

Chat Info

Layanan Online atau Tanya Informasi Lainnya. Operasional : 08:00 - 22:00