sariasih.id - Gangguan bipolar bukan sekadar perubahan suasana hati yang terjadi sesekali. Kondisi ini bersifat episodik, dapat mengalami kekambuhan dan pada sebagian penderita dapat berlangsung sepanjang hidup.
Spesialis Kedokteran Jiwa RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, dr. Azizah Azzahra, SpKJ, MKes, menjelaskan bahwa bipolar berkaitan dengan perubahan perasaan, pemikiran dan tindakan seseorang.
“Suatu gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala manik, depresi dan atau campuran, dapat kambuh dan bisa berlangsung seumur hidup,” ujar dr. Azizah Azzahra, SpKJ, MKes.
Gangguan bipolar dapat mulai terlihat pada usia 15-24 tahun, meskipun kondisi tersebut juga dapat dialami anak-anak. Faktor yang berhubungan dengan bipolar dapat berasal dari aspek biologis, psikologis maupun sosial.
Dari sisi biologis, bipolar dapat berkaitan dengan faktor genetik, kondisi otak dan ketidakseimbangan hormon. Sementara dari aspek psikologis, terdapat kondisi yang berkaitan dengan ketidakstabilan suasana hati, citra diri, perilaku impulsif serta kesulitan dalam bersosialisasi dan menjalin hubungan.
Bipolar memiliki beberapa bentuk
Menurut dr. Azizah, bipolar terbagi dalam beberapa bentuk. Bipolar tipe satu ditandai adanya episode manik atau campuran yang kemudian dapat diikuti episode depresi mayor. Gangguan perasaan pada kondisi tersebut dapat sangat mengganggu hingga penderita tidak mampu menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Sementara bipolar tipe dua ditandai episode depresi mayor dengan kondisi manik yang tidak seberat tipe satu. Ada pula kondisi siklotimik, yang merupakan bentuk lebih ringan dengan perubahan kondisi manik dan depresi yang tetap dapat mengganggu kehidupan seseorang.
Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan dan memberikan penilaian. Cara menyelesaikan masalah dapat lebih berfokus pada emosi dan kurang adaptif sehingga berpotensi menimbulkan konflik atau kesalahpahaman dalam hubungan sosial.
Risikonya juga tidak dapat dianggap ringan. Dalam bahan keterangan yang disampaikan, disebutkan sekitar 60 juta orang di dunia mengalami bipolar dalam kehidupannya, sementara di Indonesia diperkirakan sekitar 2 persen. Sebagian penderita dapat mengalami disabilitas dan terdapat risiko melakukan percobaan bunuh diri.
Pengobatan membutuhkan penanganan profesional
Karena bipolar dapat mengalami kekambuhan, penanganan menjadi bagian penting dalam membantu penderita mengelola kondisinya.
“Pengobatan dilakukan dengan pemberian obat untuk menstabilkan homron dan psikoterphy untuk mendeteksi pemicu munculnya gangguan bipolar sehingga bisa dialihkan kepada hal-hal yang positif,” sebut dr. Azizah Azzahra, SpKJ, MKes.
Selain faktor biologis, pemicu dari sisi psikologis dan sosial juga perlu diperhatikan. Pada sebagian penderita, konflik sosial, kesulitan menjalin hubungan maupun cara menghadapi masalah dapat memengaruhi kondisi suasana hati.
Karena itu, menjaga suasana hati penderita bukan berarti sekadar meminta mereka untuk selalu tenang atau tidak marah. Dibutuhkan pemahaman terhadap kondisi, pengenalan terhadap pemicu serta penanganan yang sesuai.
Seseorang yang mengalami perubahan suasana hati ekstrem, episode manik atau depresi, kesulitan mengendalikan perilaku, gangguan fungsi sehari-hari, maupun munculnya perilaku yang membahayakan diri perlu mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan jiwa.
Diagnosis dan penanganan bipolar sebaiknya dilakukan oleh profesional, bukan berdasarkan self-diagnosis.



