sariasih.id - Rasa lelah yang berkepanjangan sering dianggap sebagai dampak dari padatnya aktivitas, kurang tidur, atau stres. Padahal, kondisi tersebut juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius, termasuk penyakit hati akibat hepatitis yang pada banyak kasus berkembang tanpa gejala khas.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hepatitis virus masih menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian setiap tahun akibat komplikasi seperti sirosis dan kanker hati. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI terus mendorong deteksi dini dan edukasi masyarakat karena banyak penderita baru mengetahui penyakitnya setelah fungsi hati mengalami kerusakan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Sari Asih Bintaro, dr. Yoppi Kencana, Sp.PD, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap kelelahan berkepanjangan sebagai hal yang wajar, terutama bila disertai keluhan lain yang mengarah pada gangguan fungsi hati.
"Masih banyak masyarakat yang menganggap rasa lelah terus-menerus hanya akibat pekerjaan atau kurang istirahat. Padahal, kelelahan juga dapat menjadi salah satu gejala hepatitis yang sering tidak disadari," ujar dr. Yoppi.
Menurutnya, hepatitis sering berkembang secara perlahan tanpa keluhan yang khas. Hati memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kerusakan sehingga penderita dapat tetap beraktivitas seperti biasa meski proses peradangan telah berlangsung.
Selain kelelahan, hepatitis dapat disertai mual, muntah, hilangnya nafsu makan, urine berwarna gelap seperti teh, tinja berwarna pucat, rasa tidak nyaman pada perut kanan atas, hingga kulit dan mata menguning. Namun, tidak semua penderita mengalami seluruh gejala tersebut.
"Banyak masyarakat mengira hepatitis selalu ditandai dengan mata kuning. Padahal Hepatitis B maupun Hepatitis C dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa gejala yang khas, sementara kerusakan hati terus berjalan secara perlahan," jelasnya.
WHO menilai rendahnya angka diagnosis masih menjadi tantangan dalam pengendalian hepatitis di berbagai negara. Banyak penderita baru mengetahui dirinya terinfeksi ketika telah mengalami komplikasi serius. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi salah satu langkah penting dalam upaya eliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.
dr. Yoppi menjelaskan, hepatitis A dan Hepatitis E umumnya menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Sementara Hepatitis B, Hepatitis C, dan Hepatitis D lebih banyak ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh yang terinfeksi.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi obat atau suplemen ketika mengalami kelelahan berkepanjangan tanpa mengetahui penyebabnya. Beberapa jenis obat dapat memperberat kerja hati apabila digunakan tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
"Semakin dini hepatitis ditemukan, semakin besar peluang mencegah komplikasi serius. Pemeriksaan fungsi hati dan pemeriksaan laboratorium dapat membantu mengetahui kondisi hati sebelum terjadi kerusakan permanen," katanya.
Untuk menurunkan risiko hepatitis, dr. Yoppi menyarankan masyarakat menjalani vaksinasi Hepatitis A dan Hepatitis B sesuai rekomendasi, menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan dan minuman yang higienis, serta menghindari perilaku yang meningkatkan risiko penularan virus.
"Bila rasa lelah berlangsung terus-menerus, tidak membaik meski sudah beristirahat, atau disertai keluhan lain seperti nyeri perut kanan atas, perubahan warna urine, maupun kulit dan mata menguning, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui sedini mungkin," tutup dr. Yoppi.
Baca juga: Dokter RS Sari Asih Bintaro Ingatkan Nyeri Perut Kanan Bisa Menjadi Tanda Hepatitis






