sariasih.id - Stroke kerap dikaitkan dengan kelompok lanjut usia. Padahal, penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak ini juga dapat menyerang orang berusia muda. Faktor genetik, kelainan jantung, gangguan pembuluh darah, hingga kebiasaan hidup tidak sehat dapat meningkatkan risikonya.
Stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat atau pembuluh darah di otak pecah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sel otak kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan apabila tidak segera ditangani.
Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menjelaskan bahwa stroke pada usia muda dapat berkaitan dengan kelainan bawaan pembuluh darah, kelainan jantung, penggunaan zat tertentu, serta gangguan darah. Sementara itu, WHO menyoroti tekanan darah tinggi, merokok, diabetes, kolesterol tinggi, pola makan tidak sehat, dan kurang aktivitas fisik sebagai faktor risiko stroke yang perlu dikendalikan.
7 faktor risiko stroke pada usia muda
1. Faktor genetik dan riwayat keluarga
Riwayat stroke dalam keluarga dapat menjadi salah satu petunjuk adanya faktor keturunan atau kondisi medis yang meningkatkan risiko. Namun, riwayat keluarga tidak berarti seseorang pasti akan mengalami stroke.
2. Penyakit jantung
Kelainan jantung tertentu, termasuk gangguan irama jantung, dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang kemudian menyumbat pembuluh darah otak.
3. Kelainan pembuluh darah otak
Aneurisma dan malformasi arteriovenosa (AVM) merupakan contoh kelainan pembuluh darah yang dapat meningkatkan risiko perdarahan di otak.
4. Tekanan darah tinggi
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama stroke. Kondisi ini sering tidak menimbulkan keluhan sehingga seseorang dapat tidak menyadari tekanan darahnya sudah tinggi.
5. Merokok dan penggunaan zat terlarang
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Penggunaan zat terlarang tertentu, seperti kokain dan amfetamin, juga dapat meningkatkan risiko stroke.
6. Penyakit autoimun dan gangguan pembekuan darah
Kondisi seperti lupus, peradangan pembuluh darah tertentu, dan gangguan pembekuan darah dapat berperan dalam meningkatkan risiko stroke pada sebagian orang.
7. Pola hidup tidak sehat
Kurang bergerak, kelebihan berat badan, konsumsi makanan tinggi garam, serta diabetes dan kolesterol yang tidak terkontrol dapat memperbesar risiko stroke, termasuk pada kelompok usia produktif.
Stroke pada usia muda tetap perlu diwaspadai
WHO menegaskan bahwa banyak faktor risiko stroke dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan penanganan penyakit penyerta. Karena itu, usia muda bukan alasan untuk mengabaikan pemeriksaan kesehatan.
Masyarakat dapat mulai melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga kesehatan. Berhenti merokok, menjaga pola makan, serta melakukan aktivitas fisik teratur juga menjadi bagian penting dari pencegahan.
Selain mengenali faktor risiko, masyarakat perlu mengetahui tanda-tanda stroke, seperti wajah menurun sebelah, kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, bicara pelo, gangguan penglihatan, atau kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba.
Jika gejala tersebut muncul, segera cari pertolongan medis di rumah sakit. Jangan menunggu gejala membaik sendiri karena penanganan cepat sangat penting untuk mengurangi risiko kerusakan otak dan kecacatan.






