sariasih.id - Paparan sinar matahari sering dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan tubuh, terutama karena sinar ultraviolet B (UV-B) berperan dalam proses pembentukan vitamin D. Hal tersebut membuat aktivitas berjemur menjadi kebiasaan yang dilakukan sebagian masyarakat, terutama pada pagi hari.
Dokter Spesialis Departemen Medik Dermatologi dan Venereologi RS Sari Asih Serang, Kota Serang, dr. RR Kharisma Yuliasis Widiasri, M.Sc, SpDV, membenarkan bahwa paparan sinar matahari memiliki manfaat bagi tubuh karena dapat membantu memicu pembentukan vitamin D.
“Paparan sinar matahari pada tubuh seseorang dapat memicu vitamin D yang diperlukan oleh tubuh kita,” terang dr. Kharisma Yuliasis Widiasri, M.Sc, SpDV.
Vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang dan sistem muskuloskeletal. Menurut WHO, sejumlah kecil paparan radiasi ultraviolet memang diperlukan tubuh untuk produksi vitamin D. Vitamin tersebut berperan dalam menjaga sistem tulang dan otot.
Namun, kebutuhan vitamin D setiap orang tidak selalu sama. Kondisi tubuh, usia, warna kulit, pola aktivitas, serta seberapa sering seseorang terpapar sinar matahari dapat memengaruhi status vitamin D.
Karena itu, berjemur tidak berarti seseorang harus berada di bawah sinar matahari dalam waktu lama. WHO menekankan bahwa manfaat vitamin D perlu diimbangi dengan perlindungan dari paparan ultraviolet yang berlebihan. Radiasi UV yang terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan DNA, kulit terbakar, penuaan kulit, gangguan mata, hingga meningkatkan risiko kanker kulit.
Selain paparan matahari, vitamin D juga dapat diperoleh dari asupan makanan tertentu. Sumber makanan yang mengandung vitamin D antara lain ikan berlemak dan sejumlah produk pangan yang telah difortifikasi.
Dengan demikian, tujuan berjemur sebaiknya bukan mengejar paparan sinar matahari sebanyak-banyaknya, melainkan menjaga keseimbangan antara kebutuhan tubuh dan perlindungan kulit.
Masyarakat yang memiliki kekhawatiran mengenai kekurangan vitamin D juga sebaiknya tidak langsung mengonsumsi suplemen dalam dosis tinggi tanpa mengetahui kebutuhannya. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan apakah seseorang memang mengalami kekurangan vitamin D dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Paparan sinar matahari pada dasarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, manfaatnya tetap perlu diperoleh dengan memperhatikan durasi paparan, kondisi lingkungan, dan perlindungan kulit.
WHO merekomendasikan penggunaan perlindungan terhadap sinar ultraviolet ketika indeks UV berada pada angka 3 atau lebih.
Karena itu, kebiasaan beraktivitas di luar ruangan tetap dapat dilakukan, tetapi masyarakat perlu memahami bahwa semakin tinggi paparan UV, semakin penting pula perlindungan terhadap kulit dan mata.





