Blue Light Smartphone Bisa Picu Stres Oksidatif pada Kulit, Benarkah?

Blue Light Smartphone Bisa Picu Stres Oksidatif pada Kulit, Benarkah?

sariasih.id - Smartphone memang memudahkan berbagai aktivitas manusia. Dalam satu perangkat, masyarakat dapat berkomunikasi, bekerja, mengambil foto, menyimpan data, menikmati musik, mengakses internet hingga bermain gim.

Di balik kemudahan tersebut, muncul perhatian terhadap durasi paparan cahaya dari layar perangkat elektronik, termasuk cahaya biru atau blue light.

Dokter Spesialis Departemen Medik Dermatologi dan Venereologi RS Sari Asih Serang, Kota Serang, dr. RR Kharisma Yuliasis Widiasri, M.Sc, SpDV, menjelaskan bahwa penggunaan smartphone dalam durasi panjang membuat kulit terus mendapatkan paparan dari sumber cahaya layar.

“Rata-rata penggunaan smartphone di Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 5,5 jam per hari, dan smartphone baik itu tablet, menghasilkan cahaya biru atau blue light,” kata dr. Kharisma.

Ia menjelaskan, paparan blue light secara terus-menerus dan kumulatif dapat menyebabkan stres oksidatif pada kulit. Kondisi tersebut berkaitan dengan pembentukan radikal bebas yang dapat memengaruhi kesehatan sel kulit.

“Stres oksidasi pada kulit mempercepat penuaan kulit, menimbulkan bercak kehitaman pada kulit serta kegelapan pada kulit,” jelas dr. Kharisma.

Secara ilmiah, mekanisme tersebut memang menjadi salah satu fokus penelitian. Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di PubMed menyebutkan bahwa blue light dapat menghasilkan reactive oxygen species atau ROS dan berhubungan dengan hiperpigmentasi. Namun, para peneliti juga menekankan bahwa mekanisme dan besarnya dampak pada manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Penelitian lain menemukan bahwa blue light dapat menimbulkan stres oksidatif pada jaringan kulit dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, hasil penelitian laboratorium tidak otomatis berarti paparan dari layar smartphone dalam kehidupan sehari-hari memberikan dampak dengan tingkat yang sama.

Hal ini penting dipahami agar masyarakat tidak menganggap smartphone sebagai sumber utama kerusakan kulit. Sebab, bukti mengenai dampak sinar ultraviolet dari matahari terhadap kulit jauh lebih kuat.

WHO menyebut UVA dapat menembus hingga lapisan kulit yang lebih dalam dan berkontribusi terhadap hilangnya elastisitas kulit serta penuaan dini. Paparan UV dalam jangka panjang juga berkaitan dengan sejumlah masalah kulit lainnya.

Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa paparan sinar ultraviolet berlebihan dapat mempercepat munculnya tanda penuaan seperti bintik hitam, garis halus dan keriput karena kerusakan kolagen serta elastin.

Karena itu, masyarakat tetap perlu menerapkan perlindungan kulit secara menyeluruh. Salah satunya menggunakan tabir surya. Kemenkes menyebut penggunaan sunscreen dengan SPF minimal 30 sebagai salah satu langkah perlindungan ketika beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, penggunaan smartphone sebaiknya dilakukan secara bijak. Berikan jeda setelah menatap layar dalam waktu lama dan hindari penggunaan tanpa batas, terutama jika sudah menimbulkan keluhan pada mata atau tubuh.

Menurut dr. Kharisma, masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi tubuh dan kulit. Jika terdapat perubahan atau keluhan yang tidak biasa, pemeriksaan kepada tenaga medis dapat membantu memastikan penyebabnya.

Dengan demikian, persoalan blue light bukan alasan untuk membuang smartphone ke tong sampah. Yang lebih penting adalah mengatur durasi penggunaan dan tetap menjaga perlindungan kulit dari paparan yang risikonya sudah terbukti, terutama sinar ultraviolet.


Tips Kesehatan Terkait

Chat Info

Layanan Online atau Tanya Informasi Lainnya. Operasional : 08:00 - 22:00