sariasih.id - Kasus keracunan makanan sering kali dianggap sepele dan bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa makanan yang tidak aman dapat memicu lebih dari 200 jenis penyakit akibat kontaminasi bakteri seperti Salmonella hingga zat kimia berbahaya.
Ketika keluhan seperti mual, muntah, diare, kram perut, hingga demam muncul setelah mengonsumsi makanan tertentu, masyarakat diimbau untuk tidak langsung panik dan menghindari kebiasaan minum antibiotik sembarangan tanpa resep dokter.
Menurut dr. Muhammad Fadil dari RS Sari Asih Bintaro, tidak semua penyakit akibat makanan disebabkan oleh bakteri atau membutuhkan penanganan antibiotik. Konsumsi antibiotik yang keliru justru tidak akan membantu penyembuhan secara tepat.
Pada kasus ringan, fokus penanganan utama adalah menjaga hidrasi tubuh menggunakan larutan oralit secara bertahap. Diingatkan dr. Muhammad Fadil, pasien agar tidak memaksakan makan dalam jumlah banyak saat rasa mual masih mendera. "Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan. Setelah kondisi mulai membaik, makanan bisa diberikan kembali secara bertahap," jelasnya.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk waspada terhadap risiko dehidrasi berat, terutama pada anak-anak dan lansia. Segera cari pertolongan medis ke fasilitas pelayanan kesehatan jika mengalami muntah atau diare terus-menerus, tubuh sangat lemas, sulit minum, nyeri perut hebat, BAB berdarah, atau demam tinggi. "Jangan menunggu sampai semakin lemas," tegas dr. Muhammad Fadil.





