sariasih.id - Tidak semua anak yang mengalami bullying di sekolah akan langsung bercerita kepada orang tua. Sebagian memilih menyimpan pengalaman tersebut karena merasa malu, takut dimarahi, atau khawatir masalah yang dialaminya justru semakin besar.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku anak. Perubahan yang terlihat sederhana, seperti anak yang tiba-tiba menjadi pendiam atau lebih sering menghabiskan waktu sendirian, dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang dihadapinya.
Psikiatri dari RS Sari Asih Karawaci, Kota Tangerang, dr Uliandri Amrullah, SpKJ, mengatakan kondisi psikologis anak dapat diamati melalui perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Misal anak biasanya dikenal periang, lalu tiba-tiba berubah menjadi pendiam, jarang bicara, lebih senang menyendiri dan menghindar dari pergaulan sehari-hari. Itu yang perlu diwaspadai,” sebut dr Uliandri.
Perubahan perilaku tersebut perlu diperhatikan terutama apabila terjadi secara mendadak dan berlangsung terus-menerus. Anak yang sebelumnya aktif bermain dengan teman dapat menjadi lebih tertutup. Anak yang biasanya bersemangat berangkat sekolah bisa mulai mencari alasan untuk tidak masuk.
Orang tua juga dapat memperhatikan perubahan pola tidur dan makan, penurunan aktivitas sosial, perubahan suasana hati, maupun keengganan anak membicarakan kegiatan di sekolah.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti anak menjadi korban bullying. Faktor lain seperti masalah keluarga, tekanan akademik, konflik pertemanan atau persoalan perkembangan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan. Langkah pertama adalah membangun komunikasi.
Diperlukan langkah serius jika perubahan perilaku tersebut telah berjalan selama lebih dari tiga hari. Orang tua dapat mendekati anak untuk melakukan pembicaraan dan memberikan bantuan. Jika anak belum siap, berikan waktu sehingga mereka memiliki kesempatan untuk berbicara ketika merasa aman.
Pendekatan tersebut penting karena korban bullying sering kali tidak mudah mengungkapkan pengalaman yang dialaminya.
UNICEF Indonesia menganjurkan orang tua untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai pengalaman mereka di sekolah maupun aktivitas di dunia digital. Menurut UNICEF, bullying dapat terjadi secara langsung maupun melalui media sosial, pesan singkat, aplikasi percakapan dan platform digital lainnya.
Data UNICEF Indonesia yang merujuk pada Global School Health Survey 2015 menunjukkan lebih dari 21 persen anak usia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan mengalami bullying dalam satu bulan terakhir. Data tersebut merupakan data survei periode 2015, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai angka kondisi terkini, tetapi menunjukkan bahwa perundungan telah menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
WHO juga menjelaskan bahwa pengalaman negatif seperti bullying pada masa anak dan remaja dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Masa kanak-kanak dan remaja merupakan periode penting dalam perkembangan kemampuan sosial dan emosional.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai anak mengucapkan secara langsung bahwa dirinya menjadi korban bullying. Perubahan perilaku dapat menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi.
“Jika sudah diketahui, arahkan anak untuk menjauh dari pelaku, beritahukan kepada pihak sekolah, pindah sekolah atau temui ahli,” saran dr Uliandri Amrullah, SpKJ.
Yang tidak kalah penting, orang tua perlu menghindari respons yang menyalahkan korban. Kalimat seperti “jangan cengeng” atau “balas saja” dapat membuat anak merasa persoalannya tidak dipahami.
Anak membutuhkan keyakinan bahwa ketika ia bercerita, orang dewasa akan membantunya mencari jalan keluar.
Dengan mengenali perubahan perilaku sejak awal dan membangun komunikasi yang terbuka, orang tua maupun sekolah dapat melakukan intervensi sebelum dampak bullying berkembang menjadi persoalan psikologis yang lebih berat.






