sariasih.id - Kondisi psikologis seorang ibu di awal masa berumah tangga dan memiliki anak biasanya memang menunjukkan dinamika yang berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang sudah lama menjalaninya. Hal tersebut dinilai sangat wajar, karena para ibu baru cenderung diliputi perasaan bingung dan umumnya belum sepenuhnya mampu beradaptasi dalam membagi waktu maupun menentukan skala prioritas harian. Sebaliknya, ibu yang sudah lama berumah tangga biasanya memiliki lebih banyak pengalaman empiris serta keterampilan beradaptasi saat menghadapi kendala.
Agar para ibu senantiasa peka dan aware terhadap kondisi kesehatan mental pribadi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui berbagai program promotif kesehatan jiwa menganjurkan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan mental secara berkala. Sejalan dengan hal tersebut, Psikolog Klinis, RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan, Mahesti Pertiwi, M.Psi, membagikan panduan praktis tanda-tanda kelelahan mental yang patut diwaspadai oleh para ibu.
Tanda-tanda tersebut meliputi rasa lelah dan kewalahan yang teramat sangat hingga merasa tidak tahu harus berbuat apa, perasaan khawatir yang datang terus-menerus, kesulitan fokus, merasa sedih, cemas, serta takut hampir setiap hari. Selain itu, gejala psikis juga kerap disertai tanda fisik seperti mudah marah tanpa alasan yang jelas, menangis tiba-tiba tanpa sebab, gangguan pola tidur dan makan, timbulnya keluhan fisik berupa sakit kepala, nyeri otot, gangguan pencernaan, hingga kecenderungan menarik diri dari pergaulan sosial, bahkan munculnya pikiran buruk yang ingin menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Apabila gejala-gejala tersebut mulai dirasakan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, hal itu menjadi alarm atau tanda kuat bahwa seorang ibu perlu segera mengambil jeda (berjeda) untuk melakukan identifikasi diri guna merenungkan apa yang menjadi akar permasalahannya.
“Pelan-pelan berjeda, terima saja dahulu perasaan tidak menentu tersebut, atau hal-hal yang tidak nyaman tersebut, karena jika didiamkan atau dihindari justru akan menambah ketidaknyamanan dalam diri, kemudian tenangkan diri sambil tarik napas panjang kemudian hembuskan beberapa kali, lalu kenali emosi yang dirasa dan sensasi fisik yang hadir, kemudian renungkan atau dengan cara menuliskan penyebabnya darimana perasaan dan atau pikiran tersebut berasal, kemudian terima perasaan tersebut, lalu identifikasi pikiran yang hadir tersebut dengan pilah mana yang merupakan fakta mana yang asumsi, kemudian sadari bahwa ada yang bisa dikontrol dan tidak bisa dikontrol, lebih lanjut fokus pada yang bisa dikontrol,” saran Mahesti.
Setelah tahapan tersebut dilakukan, ibu dianjurkan untuk berfokus sepenuhnya pada aspek-aspek yang dapat dikendalikan, misalnya dengan mengubah sudut pandang (reframing) atau menceritakan keluh kesahnya kepada orang terdekat yang dapat dipercaya.
“Memang tidak bisa instan, perlu berkenan mengupayakan pelan-pelan berlatih untuk berproses setiap harinya, jika sudah mencoba tapi masih merasa sulit, boleh ya bu, silakan untuk mencari bantuan profesional, bisa ke psikolog atau ke psikiater terdekat,” sebut Mahesti menutup panduannya.






